We Are With You

We Are With You
The help of Allah is always near

RELEIVE GAZA'S ORPHANS

RELEIVE GAZA'S ORPHANS
Mari kita bantu saudara kita!

Karyaku

Karyaku
Ya Allah Semoga Bisa Diterbitkan

Followers

Kisah Dalam Gambar Slideshow: Rama’s trip from القاهرة, مصر to 3 cities جدة, مكة المكرمة and الزقازيق was created by TripAdvisor. See another مصر slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.

Kamis, 02 Agustus 2012

Gegap Gempita, Ramadhan ku {11,12}

Tarawih ke 11 dan 12. 29, 30/07/012

Jika tarawih kemarin aku labuhkan pilihanku dimasjid As-salam, kali ini dengan rasa rindu yang menggebu, aku mengikuti kata hatiku untuk shalat tarawih di masjid Amru bin Ash Zagazig.  Masjid yang sudah yang sudah tidak asing lagi dengan hari-hari ku ketika aku masih tinggal di kawasan  As-salam. Masjid yang sekarang sering disebut-sebut oleh orang Malaysia sebagai tanda alamat rumah mereka. (Keingetan ketika masih aktif di Lazuardi café “ustaz, nasi ayam bakar kalasan dua, dihantar kat imarah lorong masjid Amru bin Ash”) hehe, iya seperti inilah sekarang keadaan di As-salam. Masjid Amru bin Ash, sebenarnya kalau di Indonesia tidak akan disebut masjid, lebih pantas bila disebut dengan mushalah, karena memang ukurannya yang kecil. Tapi karena orang-orang Mesir tidak menggunakan istilah mushalah maka masjid Amru bin Ash yang ukurannya lebih kecil dari masjidpun disebut dengan masjid.
Suasana masjid Amru bin Ash Zagazig, menjelang shalat tarawih

Masjid Amru bin Ash Zagazig juga terkenal dengan empat tokoh mahasiswa Indonesia di Zagazig yang sering menjadi imam dimasjid ini, ustadz Endang Mukhlis hidayat, ustadz Al-hafiz bin Saiful Fatta, ustadz Ahmad Dahlan, dan ustadz Syahilal Panjaitan. Mereka-mereka inilah yang dulu konsisten shalat  dimasjid ini, tidak hanya dibulan ramadhan tapi dihari-hari biasapun mereka selalu ada dimasjid ini. Sehingga para jama’ah yang tinggal di sekitar imarah masjid ini sudah mengenal baik mereka. Adalah ustadz Muhammad Al-Bahru sosok dermawan orang Mesir yang selalu ada juga dimasjid ini, sudah hampir lima tahun beliau selalu ada, membantu mahasiswa Indonesia. Karena kerinduanku kepada beliau jugalah yang menggerakan hatiku untuk shalat di masjid ini. Karena semenjak pulang dari ibadah haji sampai sekarang, aku belum sempat menemui beliau.
Masjid Amru bin Ash, iya banyak sekali kenangan yang tersimpan dimasjid ini, kenangan bersama seorang insinyur Mesir Muhammad Al-Bahru, kenangan yang mulai terukir semenjak aku menjadi ketua DPD, dari masjid inilah aku mulai mengenal dekat sosok yang dermawan itu.

Adzan isya sudah berkumandang dari tadi, rasa cemas pun sudah mulai meneror hatiku, cemas jangan-jangan aku akan terlambat melaksanakan shalat isya. Tapi sesampainya disana ternyata keadaan masjid masih terlihat lenggang, bahkan bisa dibilang sangat sepi. Hanya ada bapak tua yang sudah biasa menjadi imam juga dimasjid ini, ada dua orang Malaysia dan sosok yang sudah lama aku rindui ustadz Muhammad Al-Bahru, senyum teduh beliau langsung tertuju padaku ketika aku masuk kedalam masjid yang udaranya sangat sejuk karena dilengkapi oleh air conditioner. Senyum beliau pun langsung aku balas dengan senyumku yang mengandung rindu, tak lupa aku memeluknya sambil cipika cipiki seperti seorang anak yang baru bertemu dengan ayahnya yang sudah lama ia tinggalkan. Dengan melihat sikapku, aku berharap semoga ustadz Muhammad Al-Bahru mengerti bahwa aku sangat merindukannya.

Selesai shalat isya bapak tua yang tadi menjadi imam itu tidak ikut shalat tarawih bersama kami, mungkin karena ada kesibukan lain ia lebih memilih untuk segera pulang. Tapi sebelum keluar masjid ia sempat membisikan sesuatu kepada ustadz Muhammad Al-bahru, dan setelah itu tiba-tiba ustadz Muhammad menyuruhku untuk menjadi imam. Aku sempat menolak, tapi karena disitu memang tidak ada orang lagi akhirnya akupun maju sebagai imam.

Sebenarnya kedatanganku kemasjid Amru bin Ash juga  memiliki maksud khusus, yaitu bertemu dengan ustadz Muhammad untuk mewawancarai beliau, karena aku berniat ingin menuliskan riwayat beliau agar semua mahasiswa Indonesia di Zagazig bisa tahu siapa sosok beliau, khususnya bagi kawan-kawan yang sering mendapatkan bantuan dari beliau. Setelah shalat tarawih pun aku sempat mengobrol dengannya dan menyampaikan niatku untuk menulis biografi beliau. Sambil tersenyum beliau balik bertanya” kenapa? Dan untuk apa?” aku hanya bisa menjawab, “agar kami tahu siapa sebenarnya sosok orang yang sangat peduli kepada kami”.

Tapi beliau menolak untuk diwawancarai malam itu, dan berkata “biar besok saja aku bercerita di markaz ittihad, besok kau pun harus datang dan shalat tarawih lagi disni”. Akhirnya, aku tidak bisa membantah beliau, dan besok berarti aku pun harus shalat tarawih dimasjid Amru bi Ash lagi.

0 komentar

Posting Komentar