We Are With You

We Are With You
The help of Allah is always near

RELEIVE GAZA'S ORPHANS

RELEIVE GAZA'S ORPHANS
Mari kita bantu saudara kita!

Karyaku

Karyaku
Ya Allah Semoga Bisa Diterbitkan

Followers

Featured 1

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 2

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 3

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 4

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 5

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Kisah Dalam Gambar Slideshow: Rama’s trip from القاهرة, مصر to 3 cities جدة, مكة المكرمة and الزقازيق was created by TripAdvisor. See another مصر slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.
Tampilkan postingan dengan label Cinta Dalam Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta Dalam Doa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Oktober 2014

Putri Salju #28



Satu bulan telah berlalu, saat mimpi yang terpendam benar-benar terjadi dan doa telah meluluhkan semua teka-teki takdir yang dulu seakan sulit untuk dipecahkan. Ini jawaban dari setiap kelemahan dan rasa takut yang sejatinya lahir dari hati yang merasa tak mampu. Tapi Dia Maha Segala, cinta dan kasih-Nya menjelma menjadi angin sejuk membuka jalan dari arah yang tak pernah diduga. Ini yang aku rasakan saat cinta membawaku untuk memilihmu. Saat pertama kali melihatmu, cinta juga yang meyakinkanku bahwa kau adalah pilihan terindah. Keyakinan yang membuat aku mengerti dan merasa pasti bahwa Allah telah memilihmu untuk menjadi penyempurna agama dan hidupku.
Saat kau menjelma pelangi dalam hati membawa kesejukan dan obati kegelisahan yang tak berujung. Aku semakin percaya jika kau adalah pilihan-Nya yang terindah, jawaban dari lirih doa istikharah cinta yang selalu ku panjatkan ketika resah mencoba mengaburkan langkah suci yang akan kutempuh. Dalam hati, tekad itu sudah bulat. Bismillah ya Rabb.. aku sudah siap menjemput bidadari pilihan-Mu.

14 Agustus 2014
08.00 WIB
Pagi ini waktu terasa berjalan sangat lambat, detiknya seakan enggan untuk mengikuti gerak hatiku yang ingin segera berada di bandara Soekarno-Hatta. Iya, tanggal 13 Agustus 2014 sosok bidadari yang selalu kupanggil dengan nama ‘Putri Salju’ akan segera kulihat rupa dan sosoknya. Degup jantung yang berdetak kencang kembali meyakinkanku bahwa sosok yang sudah memaku rindu itu bukan sekedar cerita yang selama ini selalu aku gambarkan dalam puisi saat senja memeluk erat sungai nil. Atau dalam prosa yang beriramakan rasa sendu ketika malam mengharuskan ku untuk menuliskan setiap paragraph yang berisikan lantunan doa, harapan, kegelisahan bercampur rasa takut mengalir bersama deru rindu dan rasa cinta yang tak bertuan membuat aku hampir kalah dan ragu akan takdir dan kuasa tuhan.

Sejak kemarin ayah dan umi dengan cinta dan sayangnya sudah mengejeku berkali-kali saat melihatku terdiam menekuni gerak angan yang membawaku terbang menuju bandara Frankfurt. “Sudah, sudah.. lamunan dan kegelisahanmu tidak akan mengubah waktu, detik akan tetap berjalan dengan lambat dan sosok yang kau lamunkan besok siang ia baru akan sampai di bandara Soekarno-Hatta”
Aku hanya tersenyum mendengar cemoohan penuh cinta dari ayah, dan mengelak bahwa aku tidak sedang melamun. Padahal dalam hati berbagai pikiran berkecamuk menahanku pada satu kalimat yang sejak kemarin terus terekam dan terulang berkali-kali dalam anganku. “Setelah melihatku nanti apakah sang putri salju akan tetap dengan pendiriannya? Apakah pandangannya terhadapku akan tetap seperti dulu ketika aku masih berada di Mesir?” Dalam diam aku berusaha mengusir setiap bersitan yang semakin membawaku pada lorong gelap kegelisahan.

11.00 WIB
Aku menatap wajah pria yang semakin menua, geraknya sudah tidak lincah lagi seperti dulu. Ada gurat lelah yang kulihat dari senyumnya, yang selalu ia tutupi dengan canda tawa. Kali ini ia duduk didepan didalam taksi yang akan membawa kami menuju bandara Soekarno-Hatta. Ayah terlihat sangat senang berekali-kali ia berkelakar dengan supir taksi bahwa ia akan menjemput seorang putri dari negeri Almenia. Putri cantik yang akan menjadi menantunya. Yang akan membuat hari-harinya semakin penuh warna dan kembali bersemangat seperti ia masih berumur 30-an. Iya, aku melihat perubahan itu dari ayah. Dan umi pun bisa merasakan jika ayah terlihat sangat senang dan bahagia. Alhamdulillah ternyata bukan hanya aku saja yang saat ini merasakan bahagia.

Di tengah-tengah candanya berkali-kali ayah mengejeku, ejekan penuh cinta yang membuat aku semakin mengerti tentang ayah. “kira-kira nanti menantu ayah suka tidak ya dengan makanan-makanan masakan umi, di sanakan pasti makanannya roti sama keju?” aku dan umi serentak tertawa mendengar ucapan ayah yang tiba-tiba itu. Namun bagi umi ucapan ayah seperti sindiran untuknya. Karena aku tahu umi tidak begitu pandai memasak. “Insya Allah, yah.. menantu ayah pasti suka dengan semua masakan umi” kali ini umi yang tersenyum bahagia karena merasa ada yang membelanya.
Aku menatap kearah jendela taksi, meraba waktu yang berjalan sangat lambat, berbagai rasa berkecamuk dalam hati, gugup, takut menyatu menjadi gelisah yang mengganjal menutupi ruang nafasku. Berkali-kali aku mengambil nafas panjang dan dalam. Namun tetap saja rasa gugup itu tidak pernah pergi. Ya Rabb, semoga awal pertemuan ini menjadi sebuah berarti. Saat kami hanya bertutur sapa dalam langit maya. Memasrahkan setiap isi hati masing-masing pada takdir yang sudah ditentukan oleh-Nya. Juga tentang pertemuan ini, Dia-lah yang sudah merencanakan semuanya.

12:00 WIB
Aku memandangi papan elektronik jadwal kedatangan pesawat international di bandara Soekarno-Hatta. Segera kucari jadwal kedatangan pesawat Srilanka Airlines, ternyata sekitar 2 jam lagi pesawat itu baru akan mendarat di bandara yang terletak tidak begitu jauh dari rumahku. Alhamdulillah, ada jeda untuk menunggu dan menghilangkan rasa gugup. Putri salju, akhirnya rindu itu akan sampai pada muaranya, aku benar-benar bahagia dengan jalan takdir yang saat ini sedang aku tapaki. Tentangmu, sebentar lagi akan menjadi nyata. Yakinku semakin mengakar dalam, bahwa kau saat ini tidak tinggal di negeri dongeng.

Lamunanku pecah saat tiba-tiba ponselku berdering tanda ada pesan baru yang masuk, segera kubaca pesan indah itu, pesan singkat dari sang ratu, ibu putri salju yang belakangan ini kupanggil juga dengan sebutan umi “Nak, kalau sudah bertemu dengan putri salju, kabari umi ya? Umi masih di jalan” aku tersenyum bahagia membaca pesan singkat itu, ada setetes embun yang meretas gundah dalam hati. Merangkai setiap mimpi indah yang kemarin masih berwujud angan dan harapan. Secepat mungkin ku balas pesan dari umi baruku “Iya umi, insya Allah kalau putri salju sudah tiba langsung saya kabari umi”. Hari ini, semuanya akan menjadi jelas. Dan doa-doa yang kemarin terucap dalam lirih malam satu persatu mulai terjawab. Laka syukru ya Rahman ya Rahim..

13.30 WIB
Dari jauh kulihat sosok yang selama ini hanya kudengar suaranya dari telpon tersenyum kearah kami, ayah dan umi yang sudah sangat kenal dengan sosok itu segera menghampiri mereka. Iya, mereka adalah keluarga putri salju, semenjak kepulanganku dari Mesir ayah banyak bercerita tentang mereka, selain bercerita tentang proses lamaran putri salju ayah juga selalu mengatakan bahwa mereka adalah sosok indah yang memantulkan kesejukan pada siapa saja yang ada didekatnya. Sekarang aku benar-benar melihat sendiri bagaimana figur indah yang hampir setiap malam diceritakan oleh ayah itu, ada dua sosok wanita anggun mengenakan jilbab besar dan dua laki-laki yang berwajah teduh berjalan semakin dekat kearah kami.

Aku sudah bisa menerka jika sosok laki-laki yang berwajah bersih dan tentram itu adalah ayah dari putri salju. Aku menjabat tangannya erat lalu menciumnya. Kupandangi wajahnya yang sudah termakan usia, dengan janggutnya yang sudah memutih namun masih terlihat energic.
Ketika sang Ratu mendekat aku mengangkat kedua telapak tanganku ke atas dada dan sedikit menundukan kepala. Memberikan senyum dan menanyakan kabar semuanya. Akhirnya aku bisa melihat sosok wanita yang selama ini hanya terdengar suaranya dalam telpon. Ia terlihat begitu bersahaja, kesederhanaan itulah yang membuat sosok itu begitu sempurna. Dari umi juga aku banyak mendengar bagaimana istimewanya wanita yang satu bulan lagi akan benar-benar menjadi ibu untukku. proses perkenalan berjalan lancar, aku hanya mengobrol sebentar dengan keluarga putri salju. Rasa malu masih membuatku banyak terdiam. Akhirnya ayah dan umi yang menemani mereka mengobrol, membicarakan banyak hal, sesekali aku mendengar mereka membicarakan awal perkenalanku dengan putri salju. 

14.00 WIB
Aku berjalan gelisah menyusuri pintu terminal D dan E bandara Soekarno-Hatta, kulihat dari papan pengumuman arrival bahwa pesawat Srilanka Airlines sudah lama mendarat. Akan tetapi putri salju belum juga muncul. Akhirnya kami berinisiatif untuk membagi tugas menunggu di setiap pintu terminal. Aku sendiri menunggu di terminal E sedangkan ayah dan umi juga keluarga baruku semuanya menunggu di terminal D.
Kulihat ratusan manusia mulai keluar dari dalam bandara. Tapi sosok yang dari tadi ku tunggu belum juga muncul, ayah dan umi berkali-kali menanyakanku apakah calon menantunya sudah tiba atau belum. Dalam lilitan resah ponselku berdering kulihat ada nomor asing memanggil, aku langsung menjawab panggilan itu dan tiba-tiba suara diujung sana membuat waktu seakan berhenti berjalan. Yang kudengar hanya degup jantungku yang semakin kencang dan tak bisa kukendalikan. Suara putri salju memanggil, memberitahukan bahwa saat ini ia sedang berada di terminal 2 F. Aku langsung mencari di mana posisi terminal 2 F, berjalan dengan hati tak menentu sambil melihat kearah papan petunjuk mengarah ke terminal 2 F. Sekarang waktu terasa benar-benar berhenti, sosok itu kini ada didepanku. Gambaranku tentang putri salju telah menjadi nyata. Ternyata aku salah, ia bukan hanya seorang putri tapi bidadari yang dengan jilbabnya membuat semesta semakin cemburu.

Banten, 25/Oktober/2014

Rabu, 18 Juni 2014

Putri Salju #27



Putri salju.. Sebelum saat itu tiba aku akan tetap malu berucap rindu, rindu yang turun begitu deras seperti hujan yang waktu itu mengguyur kota Giessen. Rindu itu akan semakin besar karena setiap saat isyarat cinta selalu terlihat seperti bintang-bintang yang menghiasi perjalanan malammu. Bintang-bintang itu tersenyum melihatmu termenung di sisi jendela kereta yang membawamu ke kota Frankfurt, sepertinya kota itu juga sudah semakin akrab denganmu. Aku menyaksikanmu dari jauh ketika kau menyusuri setiap liku jalannya, kota yang menawan itu tak pernah lelah menopang ribuan mimpi dan cita jutaan manusia yang silih berganti berbagi kisah dengannya. Kisah tentangmu, ia juga sudah menyimpannya erat didalam ingatannya yang tak  pernah rapuh meski gurat wajahnya sudah terlihat renta dimakan usia.

Putri salju, melalui teropong doa aku selalu melihatmu dari segala arah, namamu yang selalu menuntunku ke sana. Kau tahu, mataku selalu berbinar terang ketika menuliskan setiap rangkaian huruf namamu. Tidak salah bila waktu itu umi pernah mengatakan jika namamu indah. Iya, namamu memang indah dan aku bahagia ketika menyebutnya.

Tentangmu, rasa penasaran umi sudah mulai berkurang. Pertanyaan-pertanyaan yang dulu selalu ia lontarkan terjawab sudah. Saat ini apa yang dirasakan oleh umi hampir sama denganku. Umi pernah bilang jika ia ingin sekali bertemu denganmu. Saat itu aku hanya mampu menjawab jika suatu saat nanti sosok yang umi rindukan akan datang ke rumah kita seperti seorang putri, ia akan datang membawa kebahagiaan seperti pelangi yang luluhkan gemuruh dalam teduh, saat itu umi akan tahu kenapa aku jatuh cinta pada sosok yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Ayah juga akan semakin mengerti kenapa aku menjatuhkan pilihan padanya, saat ayah bertanya apa alasannya? Kecintaannya pada Al-Qur'an sudah sangat cukup membuatku untuk menjadikannya sebagai pendamping hidup. Karena ayah juga yang mengajariku jika cinta harus memiliki visi dan misi, cinta yang memiliki tujuan untuk membangun peradaban. Dan akhir cinta itu adalah Allah. Iya, karena semua ini aku memilihnya.

Ada sedikit rasa malu ketika aku sampaikan bahwa aku ingin ayah meminang sosok putri salju untukku, gugup bercampur khawatir jika ayah tidak merestui maksud hati yang selama ini ku pendam. Tapi diluar dugaan, ternyata ayah begitu bersemangat untuk pergi ke kota di mana keluarga putri salju tinggal. Tidak peduli dengan jarak yang jauh meski harus menyebrangi lautan dan melewati satu pulau. Ayah tetap pergi membawa harapan dan impianku. Waktu itu ucapan terima kasih terus bergema dalam hati, untuk ayah dan umi yang telah meminang untukku seorang bidadari. Sempat menyelinap dalam hati rasa takut yang berlebihan ketika ayah dan umi harus menempuh jarak yang jauh itu. Tapi semuanya kembali lenyap ketika umi mengabarkan bahwa ayah dan umi sudah sampai di pulau impian.

Tidak berhenti sampai di situ, tiba-tiba denyut jantung terasa bergerak lebih kencang. Rasa gugup dan hati yang berdebar-debar membuat waktu  seakan bergerak sangat lambat. Aku ingin segera mengakhiri semua kegiatan hari itu, dan duduk di rumah menanti kabar indah dari umi. Ah.. akan ku ingat selalu hari itu, hari indah ketika ayah dan umi mengatakan bahwa proses lamaran berjalan lancar. Sujud syukur pun tak bisa kuelakkan setelah tahu bahwa pinangan ayah disambut baik oleh keluarga sang putri salju. Terima kasih ya Rabb.. cinta dan kasih-Mu begitu indah kurasakan. Kini semuanya terasa lebih tenang ketika jalan hidup dan ruas-ruas takdir satu persatu terbuka oleh lantunan doa. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Putri salju, tanggal 16 Mei 2014 menjadi awal anak tangga menuju masa depan kita. Saat dua keluarga yang tidak saling mengenal kemudian Allah pertemukan dalam ikatan tali silaturahim yang indah. Saat pertama kali aku memanggil sang ratu dengan panggilan umi. Meski rasa malu masih ada di antara kelopak mata, tapi aku bahagia bisa mengenal sosok wanita sederhana yang suatu saat nanti dan untuk seterurnya akan kupanggil umi. Sosok bersahaja dengan mahkota bijaksananya yang tak pernah lepas. Semoga berkah dan kebaikan selalu tercurah untuk ibu bapak kita, dan diakhir waktu nanti hadih terindah itupun bisa kita berikan untuk mereka. Sebuah mahkota indah yang yang terbuat dari cahaya. Ini mimpimu bukan? Mimpi yang juga kini lekat tertulis dalam benakku.

Dan waktu terus bergulir, rangkaian kisah tentang kita masih indah untuk ku tulis dan ku ceritakan. Saat kita terdiam memasrahkan semuanya pada takdir yang sudah Allah tentukan, sejak saat itu kita terjebak dan hanyut dalam alur cerita yang panjang, hanya kita sendiri yang mampu menghentikannya. Tapi keadaanku masih seperti dulu, masih sama ketika aku merasakan sendunya jatuh cinta. Saat rasa takut membuatku merahasiakan semua yang ku rasakan, membiarkan rindu terus mengalun bergerak mengirama menyusuri ruang-ruang jiwa yang terikat sepi. Meski waktu yang kita nanti tinggal menghitung hari tapi rindu tidak pernah berhenti berbunga. Ketika sendiri, aku selalu tersenyum mengingat perjalanan hidup yang tak bisa diterka. Saat kita menyembunyikan apa yang kita rasakan. Saling menyapa dalam diam dan doa menjadi perantara paling indah untuk saling menjaga perasaan masing-masing.

Saat ini keadaan itu menjadi lebih syahdu, saat aku sendiri mencoba mengumpulkan putik rindu dalam hitungan detik, ia belum menjelma bunga namun sudah tebarkan wangi gundah. Kita mengerti tiga purnama bukan waktu yang lama, sabarkan hati dalam menanti biarkan rindu itu berbunga lebat dan harumnya membuat kita larut dalam muara ibadah. Karena rindu tak pernah reda ketika ia mendendam coba lirihkannya di sepertiga malam sampai waktu itu tiba di antara iringan doa yang tumpah ruah. Rasa cemas kita yang mulai menganak rimba, akan layu oleh perasangka indah pada karunia-Nya yang senantiasa tercurah. Saat semesta mengalungkan doa pada leher kita, saat ucapan selamat bertabur jatuh seperti daun autumn, apa yang kita impikan nyata bukan sekedar kisah. Iya! Di sana ada cinta yang halal, cinta yang membuat kita tenang ketika mengucapkannya cinta yang mengusir duka dan lelah.

Kau tahu putri salju? Syair-syair itu tercipta saat aku memikirkanmu ketika aku rasakan hadirmu di sini bukan hanya sekedar bayang semata. Ini tentangmu. Iya, kau adalah pilihan terindah dalam hidupku, dan aku harus memperjuangkannya. Meski kadang awan hitam mencoba mengusik kembali, mengikatku dalam sikap rendah diri dan mencoba mengaburkanku agar ragu pada takdir. Namun semua pupus, lenyap seperti debu saat kau ingatkan aku kembali tentang karunia-Nya yang begitu besar. Saat kau katakan bahwa Allah sesuai dengan persangkaan hamba-Nya. Dan Allah pasti mudahkan setiap niat baik, apalagi untuk memuliakan sunah Rasul-Nya. Iya, aku yakin Allah pasti akan membuka jalan untuk kita. Karena ingin kita bersatunya cinta yang sudah lama kita pendam bisa lebih mengagungkan-Nya. 

Putri salju, sampaikan salam takzimku pada sang ratu, sosok ibu yang telah mengajari kita banyak hal. Dari nasihatnya tersirat isyarat indah, jika hakikatnya Allah lah yang menghadirkan cinta dalam hati manusia, saat cinta membuat jiwa kita lemah sudah semestinya kita serahkan pada Zat yang telah menitipkannya. Cinta dalam hati kita saat ini adalah amanah, biarkan ia berjalan sendiri pada tempat yang semestinya, doa yang akan menuntunnya hingga ia sampai pada Zat yang telah menciptakannya. Karena tidak benar orang yang mengaku telah mencintai Allah, tapi ia tidak menjaga batas-batas hukum Allah. Seperti inilah yang disampaikan oleh seorang ulama karismatik, Yahya bin Muadz.

Aku bersyukur dengan setiap kucuran nikmat  yang tak henti, saat semua yang mustahil tampak jelas berwujud didepan mata. Tidak ada jalan lain bagiku kecuali mengagungkan-Nya. Kau tahu Putri Salju? Dulu aku hanya bisa membayangkan semua ini dalam setiap cerita yang ku tulis. Menghadirkanmu dalam setiap hurufnya yang terangkai menjadi harap dan doa. Dari penantian yang panjang Allah memberikan kejutan yang begitu indah. Kau adalah jawaban dari setiap doa yang selama ini aku panjatkan. Allah menghadirkanmu di saat aku benar-benar siap untuk memulai hidup yang baru, kau datang untuk merubah dan menguatkan pengabdianku pada-Nya. Atau mungkin Allah melihatku mulai lelah memohon lalu Dia mengirimmu untuk mengingatkanku agar tetap kuat dan istiqamah dijalan-Nya. Saat aku menghindar dari cinta, aku yakin Allah akan menghadirkan cinta yang lebih indah, dan dari setiap pertanyaan yang selama ini kulontarkan, kaulah jawabannya.

Zagazig, 18/06/2014




Minggu, 15 Juni 2014

Putri Salju #26



Putri salju, kemarin kita adalah dua sosok yang tidak pernah saling mengenal, tidak pernah saling melihat, saling menyapa hanya dalam dunia kecil di antara layar-layar putih membentuk awan memenuhi langit maya kita. Mulai saat itu aku mulai mengerti jika rindu tidak mengenal jarak dan waktu, dan cinta hadir tanpa pernah bisa kita rencanakan. Ia datang begitu saja mengisi ruang-ruang hati yang tak mampu lagi ku tutup. Ketika aku menyimpan setiap keping  rindu ternyata kau pun mengikatnya dan menyembunyikannya dalam setiap isyarat senyummu. Cinta saat itu masih malu untuk ku sebutkan, juga sampai saat ini cinta masih menjadi kata sakral yang tidak bisa diucapkan begitu saja.

Iya, akan kutunggu saat itu. Saat cinta bukan hanya sekedar kata juga bukan hanya sekedar ikrar semata. Cinta, saat itu maknanya menjelma  rapalan-rapan indah keluar dari mulut yang kelu mengucap perjanjian suci yang disaksikan oleh dua sosok yang penuh bijak sana dalam hidup kita. Kedua sosok itu adalah ayah kita yang luar biasa. Juga akan disaksikan oleh para penduduk langit dan dicatat oleh para malaikat yang melihat, mereka menyaksikan ketika tuhan kita menyingkap yang haram menjadi halal. Saat indah itupun menjelma jua kau dan aku satu dalam singgasana indah pernikahan.

Putri salju, saat itu hadirmu bukan hanya amanah agung dari ayahmu. Tapi setelah ikrar suci itu terucap kau menjadi tanggung jawabku sepenuhnya. Tuhan kita  turut menyaksikan dan kepada-Nya semua peristiwa indah ini akan ku pertanggung jawabkan. Ya Rabb, betapa besar amanah ini, berlinang air mata ketika mengenang setiap sudut kenaifan diri. Namun resah itu kembali luluh ketika Engkau tunjukan kami tentang hakikat cinta yang sebenarnya, dan melalui sabda agung Nabi-Mu Engkau ajari kami tentang cinta yang membawa mawaddah.

Kau tahu putri salju? Ternyata cinta tidak hanya selalu menegur kelengahan pemiliknya. Ia tidak hanya mampu menyingkap tabir yang tertutup lalu menyatukan dua insan yang berbeda. Lebih dari itu cinta memiliki banyak makna indah, seperti yang selalu diceritakan dalam kisah masa lalu bahwa salah satu wujud cinta adalah menjaga dan memelihara. Cinta memelihara kesetiaan cinta juga menjaga kita untuk tidak berlaku durhaka. Karena sudah semestinya cinta membawa kita pada ketaatan. Saat mengucapkannya berbuah pahala dan memendamnya hingga ia berbuah rindu bisa bernilai ibadah, ini cinta yang indah cinta yang ada hanya setelah kita terikat dalam ikatan suci pernikahan, sunah yang diajarkan oleh Rasul kita. Dan saat itu, ganjaran merindumu akan menjelma taman-taman indah lebih indah dari taman yang ada di sisi kastil Hercules. Semoga Allah memberkahi karena kita menikah untuk meneladani sunah Rasulal-Nya, maka Allah akan menghadiahi surga sebelum surga.

Saat ini, ketika aku terbangun dari tidurku, syukur selalu terucap dari relung hati yang meluap-luap oleh rasa bahagia. Jiwa yang kemarin terhimpit oleh sepi, kini di setiap pagi ia selalu berbinar bergerak sendiri mengumpulkan setiap pecahan kata-katamu yang kau tuliskan malam tadi. Agar aku benar-benar yakin bahwa apa yang aku alami saat ini bukanlah mimpi. "Kau yang istimewa, tentangmu lebih dari apa yang ku tulis selama ini. Jika masa itu tiba, syukur bertabur lebih indah dari bunga Zierkirsche" sya'ir ini ku tulis setelah aku tahu jika kau bukan hanya sekedar mimpi, tapi kau ada dan selalu terlintas dalam benakku. Aku semakin tahu, jika cinta ternyata mampu menghubungkan yang jauh menjadi dekat. Dekat seperti degup jantung yang selalu berdenyut, meski kita berada di dua benua yang berbeda. Antara Eropa dan Afrika, namun cinta tak mengenal itu semua. Tidak salah jika salah seorang penyari Arab pernah berkata:

"Wahai orang yang bersemayam dalam diri dan rongga dadaku, meskipun rumahnya jauh dariku. Kasihanilah orang yang jatuh cinta tergila-gila kepadamu; jika tidak kau hubungi dia, niscaya akan hancur berkeping-kepinglah dirinya. Dia tak mampu sadar dari kecintaannya; Setiap kali mereka menghalanginya darimu, tercabik-cabiklah semua tirai yang menghalanginya"

Dan ketika aku terdiam sendiri berusaha menghitung-hitung rangkaian nikmat yang Allah kucurkan laksana air, membasuh keluh kesah menggantinya dengan karunia yang tak pernah diduga. Meski kalimat syukur selalu terucap berusaha mengimbangi gemuruh hati yang larut dalam gelombang kebahagiaan. Ternyata aku tak mampu menyelesaikan hitunganku sendiri. Setiap kali aku berhenti pada nikmat yang satu ternyata karunia Allah masih berbaris panjang hingga ujung mata memandang. "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" Ya Rabb, dekap aku agar aku tak pernah lupa untuk menjadi hamba-Mu yang selalu bersyukur.

Putri salju, bagiku kau adalah karunia teragung yang Allah hadirkan dipersimpangan jalan hidupku. Hadiah terindah yang Allah berikan sebagai teman hidup untuk bisa lebih mencintai-Nya. Jalan ini tak lagi sunyi, mendung yang dulu kini berubah pelangi. Aku ingin kita selalu ingat bahwa pertemuan kita bukan hanya sekedar penyatuan dua jiwa. Tetapi lebih pada melengkapi sebuah perjuangan hidup karena agama. Di sisimu aku semakin yakin jika surga menjadi lebih dekat dengan kita. Maaf, jika aku membuatmu tersipu malu, karena seperti inilah ketika hati berbicara. Aku yang bukan siapa-siapa, hanya sosok yang terlalu biasa bisa dipertemukan dengan sosok indah dan luar biasa sepertimu.

Putri salju, untuk saat ini berhentilah menari-nari dalam benaku, berhenti sebentar saja. Aku ingin mengajakmu kembali melihat rangkaian rindu yang kita sembunyikan begitu lama. Sampai ia menjadi sebuah kisah sendu dua manusia yang jatuh cinta namun mereka tidak pernah berkata, membiarkan setiap cerita itu menumpuk dan menjadi manuskrip yang kita simpan erat dalam hati masing-masing. Saat itu aku masih menyebutmu hening, sehening salju ketika ia turun menyapa resah dan semakin membuat beku bongkahan gundah. Saat aku masih memanggilmu bidadari bergaun putih, dengan setiap pertanyaanmu yang membuat aku semakin ingin tahu tentang dirimu. Padahal hanya sekilas aku melihat senyummu dalam sebuah potret yang tanpa sengaja kau jatuhkan dibawah langit mayamu.

Waktu, rasanya ingin ku tarik kembali. Paparkan semua yang terjadi dalam setiap langkah yang membekas dalam lukisan tapak yang sudah mengeras namun bisa kembali terhapus oleh tiupan angin. Ketika aku melihatmu dalam setiap gerak pohon kurma, dan kota Zagazig benar-benar telah menjadi saksi atas setiap kegundahanku yang begitu dalam. Rasa gundah yang membuat aku takut dengan lika-liku dan rahasia takdir, rasa gundah yang membuat aku khawatir dengan rasa  cinta yang semakin hari semakin besar terasa. Namun gundah yang tergambar  dalam bekas langkah kaki diatas pasir itu akhirnya terhapus juga. Jalan ini semakin terang dan hadirmu benar-benar nyata, terasa dalam setiap tarikan nafas, terasa dalam denyutan nadi yang tak pernah berhenti. Dan aku bahagia karena kau tetap ada dalam setiap tutur kata dan doa.

Apa yang terjadi pada hari ini membuat aku semakin yakin jika Allah begitu dekat dengan hamba-Nya. Dia menjawab perasaan setiap hamba-Nya. Mengijabah setiap doa yang tumpah ruah dari dalam hati yang benar-benar memohon dan mengharap. Sejenak aku malu melihat wajahku sendiri di depan cermin dengan rautnya yang naif menyembunyikan rasa tidak percaya atas karunia yang nyata ini. Karena apa yang kita alami ini laksana mimpi, seperti yang pernah kau katakan: "Benarkan hari yang indah itu akan segera datang? Ketika doa-doa yang dipanjatkan oleh sang hamba yang mengharap belas kasih Tuhan-nya lalu kini setiap doa itu Ia kabulkan? Seakan aku pun tak bisa mempercayai bahwa “hari itu” akan segera datang. Ketika yang haram berubah menjadi halal".

"Ya Mujiib" Kita lupa bahwa Zat yang Maha Mengabulkan sering kita panggil dengan nama indah ini. "Ya Mujiib"..  putri salju, dari mu aku belajar mengeja salah satu nama di antara nama-nama yang paling baik ini. 'Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi'. Jika malam ini kita terbangun, dari hati yang paling dalam mari kita panggil Zat yang Maha Agung itu dengan nama-nama-Nya yang paling baik dan indah. Ya Mujiib, ya Rahman, ya Rahiim, ya Wahhaab, ya Razaaq. Luahkan setiap resah dan harap kita pada-Nya agar apa yang kita rasakan tak sia-sia. Bukankah kita ingin kenal kita menambah dekat pada-Nya, dan bersatunya kita akan membuat kita semakin setia perintah-Nya.

Zagazig, 10/06/2014

Senin, 02 Juni 2014

Putri Salju #25



Putri salju, malam ini aku merasa begitu rapuh, tiba-tiba ketakutan untuk menyusuri suaratan takdir  menutupi setiap jalan nafasku. Gelap, hitam, aku dihadapkan pada jalan buntu yang sepi. Aku benar-benar lupa bahwa apa yang aku jalani saat ini sudah ada yang mengaturnya. Seharusnya tidak perlu ada yang kutakuti, juga tidak perlu ada yang ku resahkan, tapi entahlah kali ini cinta seperti lupa untuk menegur segala kelengahan yang ada dalam diri. Aku terperosok dalam kekhawatiranku sendiri, aku tenggelam dalam kebodohanku yang semakin menjadi. Bodoh, karena aku merasa aku bisa membaca semua jalan hidupku. Padahal tidak ada satupun daun yang jatuh kecuali Allah sudah Menuliskannya. Saat ini aku ingin benar-benar berhenti bermimpi dan kembali pada tempatku yang semestinya. Aku sudah lelah berlari mengejar segala keajaiban yang kau lukiskan. Aku ingin tetap di sini dalam pelukan sungai Nil yang menenangkan.

Sejak dulu rindu itu sudah ku letakan pada setiap gugusan doa, itu yang bisa ku lakukan agar aku tidak salah ketika harus menyandarkan harapan. Tapi apa yang kurasa saat ini lebih dari sekedar keajaiban, aku lebih memilih untuk tetap tenggelam dalam rasa syahdu rindu yang menderu. Keajaiban yang belum pernah kurasakan sebelumnya, meski kadang sakit tapi aku tetap rela tenggelam dalam samudra rindu. Sampai Allah memperlihatkan keindahan itu, saat aku dan kau dipertemukan dalam takdir-Nya. Ya Allah.. ini doaku.. Apa mungkin malam inipun kau berdoa seperti doaku.

Tentang doa, sepertinya baru kemarin kita bercerita tentang doa, ia tidak hanya hebat tapi juga indah. Adanya mendekatkan yang jauh mekarkan cinta di antara dua hati yang malu. Malu, karena takut cinta yang tumbuh dalam hati akan menyaingi cinta untuk-Nya. Malu, karena rindu saat ini seharusnya tidak mekar apa lagi sampai harus berbunga lebat. Dan doa memang sebaik-baik tempat untuk menenangkan hati ketika jiwa melangkah menndekatimu lalu tiba-tiba berpuisi sendiri dalam  sepi.

Putri salju doa itu ternyata menghapus rasa khawatir yang terlalu, ketika aku terdiam sendiri menyusuri jalan ini dengan menanggung segenap mimpi tentangmu. Aku tahu Allah melihatku dan mendengar setiap jerit hati yang kupendam sendiri. Dalam diam hati ini selalu berbisik tentangmu. Mungkin karena aku hanya mengenalmu dari jauh, dengan doa aku menyapamu, dengan rindu aku melihatmu, karena itu rasanya tidak mungkin jika aku harus melupakan doa dan menanggalkan rindu yang selama ini kujaga. Rindu yang sudah terhampar seperti permadani hijau yang membuatku tentram meski harus terkurung lama didalamnya. Lalu darimu aku belajar untuk siapa sebenarnya rindu ini harus kulabuhkan? Waktu itu kau sempat berkata: "semoga kenal kita membuat kita dekat dengan-Nya" ini mungkin salah satu alasan yang kusembunyikan kenapa aku harus jatuh cinta.

Dan akhirnya perasaan ini juga yang mengajariku untuk tidak mengalah pada rasa takut atau tunduk pada rasa khawatir yang membuatku bimbang dalam melangkah. Allah akan memberikan yang terbaik selama kita berperasangka baik pada-Nya. Saat ini jalan ini mungkin akan selalu terasa sunyi, sampai takdir ini benar-benar bisa mewujudkan setiap gugusan mimpi yang selalu bersinar di permulaan malamku sampai garis merah fajar pagi kembali mengartikan tentang rindu yang selalu bergetar. Iya, karena rindu adalah kegoncangan hati untuk menemui yang dicintainya, dan kerinduan bergantung pada dalam cintanya. Seperti ini Al-Junaid menggambarkan tentang rindu. Rindu  yang bernafas di antara denyut cinta yang memannggil sebuah nama, hidup dan mekar seperti bunga-bunga musim semi yang dulu pernah kau tunjukan potretnya. Iya, seperti bunga lonceng salju atau bunga  Krokusse ungu yang sudah bergantung pada musim semi.

Putri salju, kota Giessen akan semakin mengagumimu, meski tahun ini salju tidak turun seindah tahun lalu tapi kota itu tetap menyimpulkan senyum menawan. Ia melirik kearahmu memandangi hijabmu yang selalu berkibar menambatkan rasa tenang dalam relung jiwanya yang sudah termakan usia. Ia selalu menunjukan wajah bahagianya, karena tidak perlu menunggu lama sosok yang membuatnya semakin berharga. Karena aku tahu kau mencintai kota itu, dan kota kecil itupun begitu mencintaimu. Jika kau sempat, ceritakanlah padanya tentang kekuatan doa. Karena doa bukan hanya sekedar rayuan pada tuhan yang membuahkan keajaiban. Bukan hanya sekedar kata yang akan membuat langitmu semakin terang. Bukan juga hanya sekedar ratapan ditengah malam yang membuat para malaikat menangis mendengarnya. Lebih dari itu doa adalah pusaka setiap muslim wasilah bagi mereka untuk bercengkrama langsung dengan tuhannya. Ini yang aku rasakan, ketika aku menemukan kekuatan setelah merenungi firmannya yang agung.

“Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kalian membuat kerusakan di bumi, sesudah Allah memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sungguh rahmat Allah itu amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-A’raf: 55-56).

Zagazig, 02/06/2014

Jumat, 21 Maret 2014

Putri Salju #24



Putri salju, bercerita tentangmu seperti menulis sebuah surat, lalu aku mengirimnya ke sebuah negeri yang aku sendiri belum pernah melihatnya. Aku sudah siap beradu argumen dengan rindu jika setiap surat yang aku kirim tidak pernah sampai kepadamu. Yang ku tahu kau tinggal di sebuah kota kecil di negeri Almenia, di kelilingi oleh kota-kota  yang megah berdiri kokoh penuh wibawa, dinding-dinding tua itu tidak pernah menunjukan rasa lelah, meski sudah berabad-abad  mereka menjadi penopang tiang sejarah peradaban panjang negeri indah itu.

Kini tembok-tembok tua itu harus menulis sejarah baru bahwa saat ini di tanah mereka ada seorang putri yang membuat langit mereka semakin ceria. Ia menyapa siapa saja yang menatap kearahnya. Menghadiahkan senyum tulus dari raut wajah yang terhias hijab, dan jilbab itupun salah satu tanda indah yang dipakainya. Siapapun akan segera mengenalinya ketika dari jauh terlihat kain lebar itu bergerak menggelombang. Dan satu yang tak pernah ku lupa jika sosok putri itu sangat suka dengan salju. Iya, itu yang ku tahu tentangnya, ketika langit mayanya bercerita tentang mimpi dan langkahnya.

Aku ingin mendengar kembali kisah tentang kota Giessen, dan pertama kali kau menginjakan kaki di sana disambut oleh dedaunan autumn yang berguguran memberi salam. yang ku tahu kau mencintai kota kecil itu, dan sepertinya kota indah itu juga jatuh cinta padamu, terpesona pada eloknya perangaimu juga rona wajahmu yang bertabur senyum. Suatu hari jika kau berdiri di tepi sungai Lahn sampaikanlah salamku pada gerak airnya yang mengalir melewati kota-kota yang selalu kau ceritakan; Giessen, Marburg, Wetzlar kota-kota itu kini tergambar jelas dalam binar kedua mataku. Seolah-olah aku pernah berada di sana, menghabiskan setiap waktuku menunggu salju yang tak pernah turun lagi. Tapi untuk sekali ini saja katakan pada sungai yang berhulu di pegunugnan Ederkopf, bahwa akupun sangat ingin mengunjungi kota-kota yang telah kau lukiskan kecantikannya. Maaf jika aku salah menggambarkan keindahan kotamu. Ini hanya sedikit kesimpulanku yang aku sendiripun takut untuk mengungkapkannya.

Kau tahu putri salju? Dalam diam aku selalu menyimpan senyum, berusaha menahannya agar gerak hati yang bersorak riang tak membuatku larut dalam bahagia yang tak terhitung jumlahnya. Entahlah, ketika aku mencoba memaknai kata 'kita' rasa bahagia itu selalu bertambah. Menurutmu apa makna dari kata 'kita' itu? Lalu kenapa ketika aku mengejanya berulang kali aku selalu tersenyum? Kata 'kita' saat ini seperti dahan-dahan cinta yang ditancapkan dalam hati hingga hati itupun berbuah sesuai dengan gerak akal dan jiwa. Mungkin bahagia itu adalah buahnya, dan senyum adalah bunganya yang berderai turun seperti rintik hujan.

Aku sadar  bahagia itu tidak memiliki ruang, ia bisa saja lenyap sedikit demi sedikit tanpa pernah aku tahu kemana perginya.  Tapi yang aku takutkan  jika ia terus kubiarkan membesar, ia akan jatuh menimpaku karena aku sudah tak sanggup menahan bebannya. Jika sudah seperti itu mungkin aku tak akan bisa bercerita tentangmu lagi . Atau mungkin kubiarkan saja ia tumpah ruah agar aku semakin mengerti jika cinta untukku saat ini adalah sebuah fitnah atau ketidak tenangan yang terus berkelebat dalam sanubari.

Putri salju, aku masih melihatmu dari jauh, mengikat anganku agar tidak lupa untuk kembali setelah menyusuri setiap kota yang kau ceritakan di langit mayamu. Bunyi dering kecil dari radar penunjuk rindu  telah menyampaikan semua pesanmu. Dan tidak mungkin aku membohongi diriku jika saat ini aku benar-benar tenggelam dan larut dalam instrument bahagia yang aku sendiri yang dapat mendengarnya. Ya Rabb, aku berserah diri pada-Mu tentang semua ini, karena ternyata ada rindu yang tak kalah indah telah mengajariku untuk selalu mendekat pada-Mu, ada cinta yang tak pernah berhenti berdetak dalam hati yang mengingatkanku untuk selalu berdoa pada-Mu.

Putri salju, sepertinya bintang-bintang yang berayun di langit Frankfurt sudah sangat mengenalmu mereka menceritakan setiap gerakmu juga tentang janji setiamu pada jilbab yang membuatmu semakin dicintai oleh mereka. Jilbab telah membuatmu semakin dikenali dan hormati di kota yang penduduknya lebih banyak tidak mengenal tuhan. Jilbab juga yang menjagamu dan melindungimu. Mereka memuliakanmu dengan kerudung yang kau kenakan, bahkan ketika kau hendak membeli makanan, mereka mengingatkanmu dengan cinta. Sosok penjaga itu bertutur bahwa ia tidak yakin jika makanan yang kau beli itu halal untukmu. Lalu kau pun lebih memilih makanan yang lain makanan yang baik sesuai dengan pegangan seorang muslim. Ini mungkin kejutan pertama untukmu di hari yang penuh dengan kerja keras untuk menggapai mimpimu.

Dengan jilbab kau terlihat lebih anggun, itu bukan hanya aku yang mengatakannya. Para wanita di Hessen juga berpendapat seperti itu, sebenarnya mereka iri dengan busana muslimah yang kau kenakan. Tapi mereka terdiam, malu untuk menyampaikan apa yang mereka resahkan. Mereka hanya bisa menatapmu dibalik jendela rumah sambil memendam harap dan mimpi mereka.  Mungkin kau kenal dengan seorang wartawan kebangsaan Amerika, Joana Francis. Ia telah menuturkan ungkapan hatinya "Aku melihat para Muslimah seperti batu permata yang berharga, emas murni dan mutiara yang tak ternilai harganya. Alkitab juga sebenarnya mengajarkan agar kaum perempuan menjaga kesuciannya, tapi banyak kaum perempuan di Barat yang telah tertipu" seperti itu ia mengungkapkan rasa cemburunya pada seorang muslimah.

Tentang kecemburuan mereka, mungkin kau bisa menanyakannya pada Flora. Seorang muslimah Jerman yang baru kau kenal di masjid Maroko, di kota Frankfurt. Iya, mungkin kau sedikit terkejut karena di kota indah itu ternyata ada juga seorang gadis yang memilih Islam sebagai jalan hidupnya. Dan yang membuat kau terkagum-kagum, ternyata Flora yang telah menyerahkan hidupnya kepada Islam masih begitu muda, usianya hampir sama dengan usiamu. Flora mungkin kejutan keduamu di hari itu. Dan besok mungkin akan banyak hal-hal baru lagi yang akan kau temukan. Di sini aku hanya bisa membaca setiap senyummu, dari langit mayamu ketika kau menulis bahwa hari ini begitu indah. Semoga besok kau bisa menemukan Flora-Flora yang lain yang akan membuat negeri itu semakin indah penuh cahaya.

Zagazig, 21/03/2014




Jumat, 14 Maret 2014

Putri Salju #23



Putri salju, malam ini aku ingin sekali mengajakmu bercerita tentang rindu, rindu untuk dua sosok malaikat tak bersayap, yang  tak pernah lepas dari deru doa yang menggemuruh dalam hati. Juga tentang rindu yang sengaja kusimpan rapat dalam ruang-ruang jiwa, rindu yang tak bisa kuartikan karena ia datang begitu saja tanpa harus kuminta tanpa harus kutunggu, dan aku malu untuk mengatakan jika rindu yang tak kukenali itu mulai singgah dalam hati setelah aku mengenal sosokmu. Iya, meski sampai saat ini tentangmu aku hanya bisa melihatnya dalam lantunan doa yang selalu terucap di ujung senja.

Coba kau ceritakan tentang rindu, menurutmu Jika rasa rindu dan cinta itu bisa terlihat oleh mata. Apakah ia memilki warna? Bagaimanakah bentuk keduanya? Rindu dan cinta memang tak akan pernah bisa dipisahkan, tapi tahukah kau jika kedudukan cinta lebih tinggi dari rindu karena rindu bersumber dari cinta. Seperti itulah jawaban Ahmad bin Atha' ketika beliau ditanya tentang cinta.

Masih di malam yang sama tapi saat ini detiknya semakin berat untuk kujalani, ada banyak rasa yang bertebaran dalam relung hati, ketika tiba-tiba aku merasa sangat dekat dengan setiap tumpukan rinduku, rindu untuk segera bisa bertemu ayah dan umi, duduk bersama mereka menceritakan setiap apa yang sudah ku jalani di sini, menceritakan setiap waktuku di tanah para nabi. Mengabarkan kepada mereka betapa rindu ini terus hidup dan tak pernah berhenti berdetak. Jika dulu aku malu untuk mengungkapkan tentang rinduku pada mereka, tapi saat ini rasa malu itu sudah tidak memiliki tempat lagi. Karena hatiku sudah penuh sesak dengan rindu yang menggegap gempita seperti gugusan bintang di langit. iya, rindu,rindu dan rindu yang saat ini ingin ku sampaikan pada mereka.

Dan ini tentangmu putri salju, rindu itu kembali berbunga lebat. Padahal malam-malam kemarin sengaja kutinggalkan agar rindu yang telah menjadi taman itu kering dan lupa akan indahnya musim semi. Karena seharusnya saat ini tidak ada rindu yang kusimpan tidak ada cinta yang kupendam. Dan memang seharusnya aku melangkah dengan hati yang tenang tanpa harus merasa takut dengan takdirku, apalagi takut akan kehilanganmu. Biarkan semuanya berjalan  seperti biasa dan aku tetap memandangmu dari jauh sebagai sosok putri salju. Iya, aku selalu menatapmu dari jauh menjagamu dengan segenap doaku yang tak pernah lupa kulantunkan hampir disetiap waktuku. 

Saat ini semuanya semakin terang, seterang mentari pagi yang menyingkap gelap. Dan aku semakin terporosok dalam dunia yang begitu cepatnya berganti musim berjalan sendiri menyusuri rindu yang semakin menusuk. Berusaha menepis setiap gerak cinta  yang semakin besar kurasa. Sekarang aku sudah benar-benar tahu, jatuh cinta itu ternyata seperti seorang narapidana terkurung dalam sebuah sel seorang diri bertemankan dengan sosok yang tak pernah kukenal sebelumnya. Berteman rindu, berteman gundah, berteman rasa khawatir dan harus bertengkar seorang diri ketika cemburu datang tunjukan sikapnya yang angkuh. Ini mungkin salahku karena telah mencuri cinta dan memalingkannya dari yang berhak mendapatkannya. Kegelisahan panjangku adalah hukuman bagiku yang telah berani mencintai sosok yang seharusnya saat ini tidak kucintai.

Dulu, sepi adalah waktu yang selalu kutunggu untuk bisa menuangkan rindu yang sebenarnya. Menyepi sendiri menyampaikan cinta dalam munajat rindu yang mengharu biru. Saat itu baru aku rasakan aku bebas mecintai aku bebas merindu tanpa harus merasa menjadi seorang terdakwa. Seperti yang dulu pernah kukatakan bahwa cinta seharusnya merangkul ketaatan dan menentang kedurhakaan. Tapi aku lupa karena sifat-sifat indahmu telah merasuki pikirku. Dalam heningku aku selalu memujimu, dalam diamku aku selalu ingin mendengar ceriamu. Lalu aku, aku seperti kehilangan diriku yang dulu.

Ternyata jatuh cinta telah menciptakan banyak hal aneh dalam hari-hariku. Iya aneh, tentang putri salju aku belum pernah melihatnya tapi ia mampu menciptakan begitu banyak keajaiban dalam setiap waktuku. Ia sosok indah yang hidup di negeri dongeng, hinggap dalam rapuhnya hati,  tak pernah kulihat namun rindu yang kurasakan selalu menceritakan tentangnya. Begitu dahsyat, cinta itu telah menghadirkan sosok yang belum pernah kutemui tapi ia bisa hadir dalam setiap malamku, tersenyum bersama ribuan bintang yang terhampar, bergerak perlahan bersama semilir angin, lalu redup, hilang dalam anganku yang sunyi. Dan saat itu aku harus berbesar hati untuk tidak membenci sepi. 

Kau tahu putri salju, sudah berapa lama aku tak bercerita tentangmu? Aku hanya ingin mengambil jeda sebentar saja untuk memastikan bahwa aku masih berada diatas bumi. Dan tidak terjebak dalam mimpiku yang panjang.

Zagazig, 14/03/2014

Kamis, 06 Februari 2014

Putri Salju #22

Ilustrasi

Seharusnya malam ini aku bisa berjalan dekat disamping stadion universitas Zagazig, diatas trotoarnya yang penuh dengan pasir yang berwarna kuning, pasir gurun yang terlihat begitu indah bila dinikmati dari jauh. Seperti perjalanan menuju ke Siwa waktu itu, ketika masih menjabat ketua DPD, dengan agenda tour paling jauh hingga sampai ke perbatasan Mesir dan Libiya. Di sepanjang perjalanan yang terlihat hanya barisan gurun pasir yang tidak bertepi, namun indah dipandang mata.

Tapi kali ini stadion Zagazig terkesan menyeramkan karena di kelilingi oleh kawat-kawat beduri dan dijaga ketat oleh tentara, dipintu gerbangnya ada tumpukan karung yang berisi pasir yang tingginya hampir satu meter setengah. Mungkin fungsinya sebagai tameng jika mendadak ada oknum yang melemparkan bom kearah para tentara. Karena di Mesir memang saat ini lagi musim bom. Entah siapa yang menjadi dalang dari konspirasi ini, yang pasti masyarakat Mesir yang melek berita pasti sudah tahu siapa pelakunaya, meski yang menjadi taarget adalah kantor-kantor pilisi, tentara dan intelejen.

Setelah terjadi kudeta, Mesir memang berubah. Keramahan dan keindahannya seakan terkikis, sejarah juga tidak akan lupa pada pembantaian Rab'ah dan Maidan Nahdhah yang dilakukan oleh tentara pada rakyat sipil, tidak tanggung-tanggung ribuan orang meninggal menjadi korban keberingasan militer yang haus darah. Entah akan jadi seperti apa Mesir kedepannya, semoga Allah memberikan yang terbaik untuk Mesir dan rakyatnya.

Biasanya setiap kali pulang dari Lazuardi aku memilih melewati jalan raya didepan stadion universitas Zagazig, tapi jika ada speda aku lebih memilih lewat belakang stadion karena jaraknya memang lebih dekat dari rumah. Asyiknya pulang melewati jalan besar, selain aman tapi banyak juga yang bisa di nikmati oleh mata di malam hari, melihat para pedagang kaki lima, melihat lampu-lampu yang menerangi jalan juga suara tramco (angkutan umum khas Zagazig) yang selalu ugal-ugalan dengan suara musiknya yang memekakan telinga. Namun anehnya aku tidak pernah bosan menikmati pemandangan itu setiap hari.

Selain itu, aku merasa ketika berjalan sendiri aku jadi lebih bisa merenungi diri, mencoba mengingat segala salah dan khilaf. Ketika melewati rumah sakit Shaidnawi, aku jadi lebih merasa bersyukur dengan nikmat sehat yang diberikan oleh Allah. Rumah sakit Shaidnawi yang seringnya penuh dengan orang-orang Mesir yang berikhtiar mencari kesembuhan, yang menyayat hati adalah ketika halamannya juga dipenuhi oleh keluarga si sakit yang tidak bisa menunggu didalam. Mereka sampai tidur dibangku-bangku taman rumah sakit juga menggelar tikar diatas papinbloknya. Meski mereka tidur dengan selimut tebal, tapi di musim dingin seperti ini tetap saja musim dingin tidak bersahabat dengan tubuh mereka. Atau mungkin apa yang dikatakan oleh teman-teman di sini memang benar, jika orang Mesir itu sangat tahan dengan cuaca dingin seperti ini.

Ketika berjalan tepat di depan stadion Zagazig, aku sangat senang melihat bekas-bekas sandal atau sepatu orang-orang yang tergambar diatas trotoar. Kadang aku juga sengaja melihat tanda sandalku sendiri sambil tersenyum dan berujar; "Zagazig, lihatlah! Ini adalah tanda langkah kakiku, kenanglah aku ketika aku sudah tak di sini". Kadang juga terbesit dalam benakku, ketika terlalu sering melihat tanda-tanda langkah orang diatas trotoar stadion Zagazig adalah jika hidupku didunia ini ada batasnya, sayang sekali jika aku tidak bisa meninggalkan kesan yang baik untuk orang-orang yang ada di sini. Atau aku akan seperti tanda bekas sandal atau sepatu orang-orang yang tergambar diatas trotoar. Yang bisa terhapus dan hilang kapan saja tanpa meninggalkan kesan apapun. "Hidup sekali, hiduplah yang berarti" itu pesan kiyaiku yang sampai saat ini masih ku ingat. Padahal pesan itu ia sampaikan sekitar tujuh tahun lalu, tapi entah kenapa kata-kata itu masih seperti cambuk bagiku. Cambuk yang selalu mengingatkanku Jika hidup ini memang sangat berarti.

Berjalan sendiri, kadang pikiranku juga tertuju pada sosok yang belum pernah aku lihat sampai saat ini. Putri salju, sosok yang selama ini kuceritakan dalam catatan harianku. Ada alasan yang belum bisa kuketahui, kenapa Allah mengenalkan sosok itu padaku dengan cara-Nya yang juga tidak aku duga sebelumnya. Ini semua diluar rencanaku, dan cinta datang begitu saja, tanpa pernah direncanakan tanpa pernah diduga. Mungkin ini salah satu alasannya, ia hadir untuk mengenalkan padaku tentang arti cinta tentang arti rindu. Aku jadi semakin tahu jika cinta itu tidak hanya untuk ayah, tidak hanya untuk umi, juga bukan hanya untuk adik-adikku dirumah.

Diluar itu semua, ternyata ada cinta yang indahnya hampir menyamai cintaku kepada ayah dan umi. Maaf umi, umi pasti cemburu bila aku berbicara seperti ini. Tapi beginilah kenyataannya, ketika aku semakin dewasa duniaku semakin berwarna, dulu aku malu bertanya kepada umi, malu bercerita kepada umi tentang apa yang aku rasakan.
Tapi saat ini umi harus tahu, jika anakmu sudah jatuh cinta. Sudah mengenal rindu dan memahami arti cemburu. Jika bukan kepada umi aku bercerita, lalu kepada siapa lagi? Sedangkan rindu setiap hari semakin mengekangku.

Zagazig, 06/02/2014

Rabu, 05 Februari 2014

Putri Salju #21


Bagaimanapun akhirnya nanti, semoga kita tetap bisa tersenyum. Sebenarnya, kadang aku takut untuk membahas tentang jodoh, tapi aku sadar semua ini pasti akan dilalui oleh siapapun. Jarak dan waktu yang sampai kapanpun tak mampu ku kendalikan, rasanya membuat mendung disudut hatiku semakin hitam. Apa aku terlalu merisaukan sesuatu yang seharusnya ku jalani dengan hati yang teduh dan lapang. Iya doa, aku hanya bisa menyampaikan semuanya pada Rabb ku melalui doa. Begitu juga tentangmu putri salju, dalam doa aku bisa menepis setiap risau yang mendera.

Tapi kemarin rasanya risau itu lenyap terbawa arus waktu ketika kaki melangkah menuju Cairo International Book Fair, pameran buku terbesar di dunia dan tertua di dunia Arab. Kau tahu putri salju, pada tahun 2006 silam pameran buku di sini menjadi pameran buku terbesar kedua dunia setelah pameran buku di Frankfurt. Bukankah kota Frankfurt begitu dekat dengan kotamu? Bahkan kau pun mungkin sudah mengenal seluk beluk kota indah itu. Jika kau ada waktu berkunjunglah ke sana, aku mendengar jika Frankfurt Book Fair 2014 akan digelar pada tanggal 8 sampai 12 Oktober, aku yakin kau pasti akan menemukan sesuatu yang berharga di sana. Kau bisa memilih buku yang kau suka, buku psikologi, buku pengembangan diri, atau buku yang sangat kau sukai buku tentang kisah perjuangan hidup seseorang. Dan satu lagi, kau juga bisa mendapatkan buku tentang Palestina di sana.

Kau tahu putri salju? Ada sesuatu yang sangat ku kagumi darimu, tentang kecintaanmu pada negeri yang diberkahi itu, pada orang-orang yang ada di sana, juga anak-anak yang menjadi korban kejahatan perang, korban dari ambisi orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi. Aku hanya bisa menyaksikannya dari jauh, melihat kecintaanmu yang begitu besar, kau begitu mencintai negeri Syam, dari Damaskus hingga Palestina. Aku begitu terharu ketika kau menceritakan mimpimu, jika kau ingin ada di sana bersama mereka. Meski sekedar untuk menghapus air mata anak-anak yang ada di sana, dan menghibur  mereka dengan keceriaanmu. Sekali lagi, semoga semua mimpimu bisa terwujud.

Jika mendengar ceritamu, aku jadi teringat dengan salah seorang teman kuliahku di fakultas peradaban dan sastra Arab. Ia orang Palestina dan tempat tinggalnya dekat sekali dengan kota Gaza. Kami pernah duduk satu bangku dan pernah mengobrol bersama tentang keadaan di sana. Satu yang kuingat dari ucapannya bahwa diapun ingin segera menyelesaikan kuliahnya dan segera pulang ke tempat asalnya. Awal pertama kami berkenalan juga begitu berkesan, ia membantuku mengulang perkataan doktor yang belum sempat ku tulis, juga memperlihatkan catatan-catatan kuliahnya. Dari situ kami mulai akrab dan setiap hari selalu bertukar kabar tentang masalah perkuliahan. Saat ini kami tidak pernah bertemu lagi semenjak kepindahanku ke Kairo, aku dengar dari temanku jika sudah pulang namun akan kembali lagi ke Mesir untukmelanjutkan studynya.

Rasanya tidak ada alasan bagiku untuk tidak bersyukur atas hadirku di negeri ini, di negeri yang pernah hidup beberapa nabi didalamnya dan tertulis abadi didalam Al-Qur'an. Di sini juga aku menemukan banyak hal, dan juga belajar banyak hal. Di sini juga aku bisa bertemu dan mengenal orang-orang yang belum pernah kupikirkan sebelumnya. Juga tentang putri salju aku menemukan sosoknya di sini, di sini di tanah yang 70 persennya adalah gurun pasir, ditempat yang hanya 100 tahun sekali salju turun menggambarkan indahnya. Maha Suci Allah yang telah menentukan dan menuliskan takdir manusia, yang telah merencanakan semua liku-liku kehidupan manusia. Takdir yang menaungi kehidupan, kematian, rizki, jodoh, selalu beriringan dengan pedoman yang diturunkannya, pedoman yang membimbing langkah-langkah makhluk-Nya. Karena Dia Maha Cinta.

Zagazig, 05/02/2014

Putri Salju #20


Putri salju, aku benar-benar minta maaf, banyak pertanyaanmu yang tak mampu ku jawab. Padahal dari setiap pertanyaan itu aku bisa belajar banyak hal. Belajar memahamimu juga belajar memahami setiap gerak sepi yang di isyaratkan oleh rindu. Dan ketika muncul sebuah tanya, sampai kapan cerita putri salju akan berakhir? Rasanya pertanyaan ini sulit sekali untuk ku jawab. Bukan hanya sulit, tapi aku juga takut untuk menjawabnya. Perasaan apa lagi ini? Iya, pertanyaan itu menumbuhkan rasa takut dalam hatiku sendiri, takut jika takdir hanya menggariskanku untuk mengenalimu dari jauh. Seperti aku melihat bintang di malam hari, aku hanya bisa melihatnya dari jauh dan ketika pagi datang aku tak bisa melihatnya lagi.

Sepertinya memasrahkan semuanya pada Allah memang jalan terbaik, dari awal aku sering mengingatkan diriku sendiri bahwa apa yang ku alami saat ini bisa jadi sebuah ujian yang harus aku lewati. Mungkin Allah ingin melihat ketika di hatiku mulai tumbuh rasa cinta untuk makhluk-Nya, apakah cinta itu bisa mengalahkan cinta untuk-Nya? Ya Rabb, semua ini datang dari-Mu dan untuk akhir semua ini kepada-Mulah aku memasrahkan semuanya. Engkau yang lebih tahu jalan terbaik untuk setiap hamba-Mu.

Doa selalu membuat semuanya menjadi lebih ringan dan indah untuk dijalani. Hati pun menjadi tenang, doa seperti menciptakan titik embun dalam hati lalu mengalir menumbuhkan aneka warna-warni bunga dan menjelma taman yang begitu indah. Iya, itulah doa, isyarat yang menunjukan bahwa kita memang makhluk yang lemah dan selalu membutuhkan pertolongan Allah dalam situasi apapun. Putri salju, tentang ini semua aku tidak akan pernah lelah untuk berdoa. Karena dalam doa aku bisa merasakan bahwa Allah begitu dekat. Dan mungkin, Dia sedang merencanakan sesuatu untukku juga untukmu.

Rahasia yang tak mampu aku terka ini, aku yakin pasti akan terjawab oleh setiap doa yang selalu terucap hampir di sepanjang waktuku. Apapun jawabannya nanti semoga membuat kita selalu berbaik sangka dengan takdir. Kau tahu putri salju? Semuanya sudah ditentukan semenjak 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi, seperti inilah yang disampaikan oleh Nabi kita. Jalan hidup kita, juga orang-orang yang akan hadir membersamai kita, semuanya sudah tercatat dalam lauhul mahfudz. Juga tentang jodoh, Allah pun sudah menuliskannya. Jadi kita tidak usah berkeluh kesah dalam menjalani setiap liku dalam hidup ini. Tugas kita adalah meyakini bahwa Allah memiliki kehendak yang meliputi segala sesuatu. Tidak ada satu perbuatan makhlupun yang keluar dari kehendaknya.

Putri salju, kau pasti sudah mengerti bukan? Cerita ini akan terus mengalir, mungkin sampai waktu akan merasa jenuh dan mengalah pada setiap kata yang sudah kita ucapkan lalu kita tulis di langit maya masing-masing. Meski akhir dari semua ini masih berwujud mimpi dalam benak kita. Tapi bagiku mimpi itu begitu indah, sampai aku tak ingin bangun dari tidurku. Karena aku takut ketika mataku terjaga aku kehilangan setiap cerita yang pernah aku tulis, semua cerita tentangmu juga tentang salju yang tak bisa aku lepaskan dari sisi indahmu.

Hari ini, semoga langit di kotamu cerah dan kau bisa melukiskan kembali setiap rindumu pada mereka yang begitu kau cintai. Mereka yang pernah kau tulis dalam catatan harianmu. "Untuk Yang Tercinta" begitu katamu. Mereka yang membuatmu begitu bersyukur menjalani  setiap harimumu.

Zagazig, 3/02/2014

Putri Salju #19


Sepertinya aku akan tetap memanggilnya putri salju, sampai sosok itu bisa kulihat dengan mata terbuka dan nama yang selama ini kusembunyikan dalam hati bisa ku ungkapkan melalui mulut yang tak pernah memanggil sosok yang di cinta. Karena cinta itu sendiri, aku menemukannya dari sosok itu yang selama ini hanya berani menyebutnya dalam doa. Kau tahu putri salju, Ali bin Usman al-Hujwiri pernah bertutur tentang cinta, ia mengatakan: "Andai kata dunia mau meraih cinta, ia tidak akan mampu. Dan andaikata ia mau menolaknya, ia tak akan kuasa, karena cinta itu suatu anugerah, bukan hasil usaha. Cinta berasal dari Tuhan".

Iya, aku tak mungkin menolak anugrah yang datang dari tuhanku. Seperti yang pernah aku katakan padamu waktu itu, cinta dan rindu adalah nikmat yang kadang kita lupa untuk mensyukurinya. Kebanyakan dari kita malah membuat cinta itu berlumuran noda dan tidak suci lagi, karena ia diletakan tidak pada tempatnya. Seharusnya cinta itu merangkul ketaatan dan menentang kedurhakaan. Namun di zaman ini semua mejadi terbalik. Putri salju, bisakah kita mengembalikan cinta pada tempatnya, cinta yang selalu menegur kelengahan diri kita dan mampu membuat kita kembali berjalan lurus untuk mencintai Dzat yang seharusnya kepada-Nya seluruh cinta kita curahkan.

Jika kita belum mampu, mari kita sama-sama belajar untuk menciptakannya, hingga semuanya berwujud menjelma taman yang indah penuh pesona. Di taman itu ibadah berubah menjadi keindahan dalam hidup yang membawa kesenangan, keriangan dan kegembiraan. Iya, karena di bawah keteduhan naungan cinta, perintah ibadah tidak lagi menjadi beban yang harus dipikul , tetapi ia adalah sesuatu yang patut diterima dengan senang dan gembira. Ah.. aku tidak ingin banyak berangan-angan, tapi rasanya begitu indah jika Allah menakdirkanku untuk bisa melewati semuanya bersama sang putri salju.

Maaf, aku hanyut dalam suasana hatiku sendiri, rasanya tidak pernah bosan jika malamku kuhabiskan dengan menceritakan tentangmu. Cobalah sesekali kau yang menceritkan keadaanmu, seperti malam itu ketika hatimu merasa sunyi tiba-tiba salju datang mengetuk jendela kamarmu. Aku bisa melihat keceriaanmu dari langit mayamu, meski hanya sekedar tulisan aku ikut senang dan wajahkupun tak henti-hentinya tersenyum.  Tapi ternyata, salju hanya sebentar berada didekatmu. Sekedar menyapamu untuk menghapus setiap rindumu padanya, setelah itu ia kembali berlalu meninggalkan rindu yang lebih dalam lagi.

Malam itu kotamu bersalju, tapi di kota ku debu menjadi hujan yang hadirnya selalu membuat orang-orang Mesir mengumpat dan mencibirnya. "Syurum burum" orang-orang di sini memanggilnya, ketika mata hari redup, angin kencang dan debu berhamburan seperti badai kecil yang mengganggu penglihatan. Tapi aku menyebutnya hujan debu, karena langit waktu itu memang dipenuhi dengan debu, dan semua benda yang ada dibawahnya tidak luput dari ulahnya yang menjengkelkan. Semuanya berubah menjadi kotor dan membuat nafas terasa sesak, cuaca seperti inilah yang juga membuat aku lebih memilih berada didalam rumah. Tapi kali ini Lazuardi mengharuskanku tetap berjalan dibawah langit Zagazig yang buram, melawan angin dan melawan debu yang tertawa melihatku berjalan terseok-seok.

Dan yang perlu kau tahu, meski sore itu langit di kotaku tertutup mendung, entah kenapa aku begitu bersemangat mengayun speda melewati hujan debu yang sangat mengganggu. Apa karena waktu itu aku memikirkanmu, dan setiap kali aku membaca pesan di langit mayamu  aku seperti mendapatkan energi baru untuk bisa melewati hariku dengan wajah selalu tersenyum. Bukan kata, karena di langit mayamu hanya ada sebuah tulisan yang memberikan isyarat bahwa cinta bisa memahami setiap apapun. "Apa yang tidak dimengerti? Mari beri tahu agar mengerti" itu katamu .

Zagazig, 29/01/2014

Senin, 27 Januari 2014

Putri Salju #18


Putri salju sepertinya aku sudah menemukan kata yang tepat untuk mengganti nama panggilanmu, "jodoh dunia akhirat". Maaf jika terkesan dipaksakan, karena menurutku jodoh itu akan menemani kita semenjak didunia sampai ke akhirat. Kau pun pasti setuju dengan pendapatku, bukankah begitu? Setelah pulang shalat subuh tadi tiba-tiba dalam benak ku terbesit kata itu dan mulutpun ikut mengucapkan; "jodoh dunia akhirat". Tepat dibawah menara masjid Umar bin Abdul Aziz ketika aku menatap keatas langitnya dan bulan sabit masih begitu terang dengan bintang-bintangnya yang berhamburan. Saat itulah aku memanggilmu jodoh dunia akhirat, sosok rahasia yang sudah disiapkan oleh Allah di masa depan kita masing-masing.

Sudah cukup membahas tentang jodoh, mungkin ini dampak dari doa shalat subuh tadi ketika aku masih memikirkanmu dan menyebutmu dalam doa syahdu. Ada banyak hal yang tak bisa ku mengerti,  ketika tiba-tiba aku merasa iri melihat dilangit mayamu tertulis banyak nama yang tak kukenali, ada rasa ingin berlari menjauh darimu ketika aku melihat dilangit mayamu begitu banyak bintang bersinar yang memujimu dan memberikan sanjungan indah untukmu. Sedangkan aku, untuk menyapamu saja harus bergelut dulu dengan malu. Jika kau mengatakan aku cemburu, apakah ini benar-benar akhir dari kesimpulanmu? Atau kau hanya sekedar menghiburku saja. Kau tahu, meski aku cemburu tapi salju tetap membuatmu indah.

Cemburu, kata baru yang kutemukan semenjak aku selalu menyebutmu dalam doa, dan ketika aku begitu merasa sulit untuk bisa melihat apa yang tertulis dalam hatimu. Cemburu, kata baru yang masih belum kupahami, namun aku enggan untuk mencari maknanya. Mungkin lebih tepatnya jatuh cintalah yang membuat aku mengenal kata cemburu. Ah.. putri salju, bagaimana mungkin aku bisa cemburu sedangkan aku sendiri belum pernah melihatmu. Lalu tentang semua yang aku rasakan ini, aku harus menyebutnya apa? Hehe lagi-lagi jatuh cinta itu sungguh berat.

Saat ini, saat aku berjibaku dengan kata cemburu, aku teringat dengan pesan umi bahwa cinta itu harus diperjuangkan. Sesaat waktu umi terdiam sebenarnya aku ingin balik bertanya, kenapa dulu umi tidak mengajariku bagaimana untuk memperjuangkan cinta? Bahkan umi juga tidak memberitahuku jika jatuh cinta tidak hanya melukiskan pelangi, namun sering juga mendung membuat langitku selalu seperti malam tanpa bintang juga tanpa purnama. Dan yang membuat hati gelisah, umi juga tidak memberitahuku jika cemburu adalah bagian penting yang tak terpisahkan dari jatuh cinta. Umi, ketika aku sudah didekatmu nanti aku pasti akan meminta penjelasan pada umi tentang semua ini.

Ya Allah, seperti inikah jatuh cinta? Memang benar apa yang diucapkan oleh Jalaluddin Rumi "Sungguh cinta dapat mengubah yang pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, pernjara berubah menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat"
"Cintalah yang mampu melunakkan besi , menghancur-leburkan karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya, serta membuat budak menjadi pemimpin".

Kau tahu putri salju, kadang aku juga merasa takut dengan perasaan ini, takut jika aku salah memahami cinta dan mengambil jalan yang salah lalu terjebak dalam pusaran dosa. Untuk saat ini aku hanya ingin mengikuti apa yang di jelaskan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah "Cinta adalah buhulnya iman, di mana orang tidak akan masuk tanpa cinta. Seorang hamba tidak akan sejahtera maupun selamat dari ancaman siksa Allah tanpa cinta.Maka hendaklah hamba itu berperilaku atas dasar cinta". Menurutmu, apakah ada definisi yang lebih tepat untuk menggambarkan cinta?

Zagazig, 27/01/2014

Putri Salju #17


Putri salju, salah seorang temanku di sini pernah mengatakan jika sebaik-baik wanita adalah yang bisa membawa suaminya ke surga. Kemudian sahabatku berkata" jika aku tidak menemukan yang seperti itu semoga aku bisa mendapatkan seseorang yang bisa kugandeng tangannya, lalu bersama-sama kami melangkah ke surga" dari percakapan ringan itu aku berpikir bahwa di manapun ia berada, seorang wanita shalihah akan selalu dicari. Begitu juga sebaliknya. Percakapan singkat yang begitu berkesan, mungkin mulai saat ini aku tidak akan memanggilmu putri salju lagi, tapi sosok rahasia yang hanya bisa kulihat dalam do'a, karena hanya dalam doa kita saling bicara, saling menyapa dan saling menjaga keadaan kita masing-masing.

Aku memanggilmu putri salju karena kau memang berada di negeri yang penuh dengan salju. Tapi jodoh, tetap akan menjadi rahasia yang tak akan pernah kita tahu bagai mana akhirnya. Apakah aku yang akan menjadi imam mu di masa depanmu nanti, ataukah kau yang akan melengkapi separuh agamaku? Jawaban semua ini ada dalam catatan takdir kita masing-masing yang sudah tertulis di lauhul mahfuz. Tugas kita saat ini adalah bagai mana kita menjadi hamba Allah yang sebenarnya. Seorang hamba yang bisa meletakan cinta sesuai dengan syariat yang dipercayainya. Iya, mungkin ini sulit tapi ketika kita bisa melewatinya, maka yang terbaiklah yang akan diberikan oleh Allah untuk kita.

Maaf, jika aku terlalu berlebihan menilaimu. Tapi apa yang sudah aku katakan tentang dirimu semuanya tulus dari hati yang belum bisa mengucapkan kata cinta atau mengungkapkan rasa rindu pada sosok yang di dambanya. Dan setiap orang pasti memiliki cara masing-masing untuk menyikapi perasaan mereka ketika mereka dihadapkan dengan cinta ataupun rindu. Dan menurutku, menyandarkan semuanya kepada Allah adalah jalan terbaik, agar semuanya tidak sia-sia, dan rasa yang di pendam didalam hati tidak menjadi dosa, namun berbuah surga karena kita bisa melewati masa berat ini sesuai dengan aturan agama kita.

Hehe, jatuh cinta itu ternyata begitu berat, seperti yang pernah kau tulis dilangit mayamu bahwa wanita adalah ujian untuk laki-laki yang beriman. Semoga aku termasuk dalam golongan laki-laki yang beriman yang bisa menjaga amanah-Nya sampai batas waktu yang sudah ditentukan oleh-Nya. Karena cinta adalah amanah, rindupun amanah. Jika kita bisa menjaga cinta dan rindu yang dititipkan oleh Allah maka kita akan selamat dari ujian yang selanjutnya. Saat ini Allah hanya sedang menguji kita, cinta yang dirahasiakan, rindu yang ditutupi semuanya bisa dilihat oleh-Nya. Cinta memang rahasia paling indah antara aku dan tuhanku.

Sudah jam 11 malam, tapi aku belum juga mendapatkan kata yang pas sebagai pengganti putri salju. Atau mungkin aku tetap memanggilmu putri salju saja, karena dari putri salju aku sudah belajar banyak hal. Tentang ketidak sempurnaan manusia, tentang kejujuran, tentang kesetiaan, dan yang terpenting adalah putri salju mengajariku bagai mana aku harus bersikap ketika aku jatuh cinta, dan bagaimana aku harus bersikap ketika rindu yang seharusnya menjadi sosok seorang sahabat tapi ia berubah menjadi musuh yang penuh dengan tipu muslihat. Jadi teringat dengan pesannya mbak Helvi Tiana Rosa, "ketika kau jatuh cinta maka saat itulah waktu yang tepat untuk menulis" mungkin ini waktuku untuk menuliskan semua yang aku rasakan, menuliskan setiap denyut nadiku yang selalu disesaki oleh rindu.

Zagazig, 25/01/2014

Putri Salju #16


Beberapa hari ini, rembulan yang tersenyum ku acuhkan begitu saja, aku tahu ia pasti merasa kecewa karena tahun lalu sinarnya yang megah masih sempat kutulis dalam bait puisi. Tentang rembulan dan putri salju, rasanya begitu indah. Tapi sekarang sinar itu ranum tanpa ada yang melukisnya apalagi menuliskannya dalam bait-bait puisi penuh rindu. Maaf aku tak bermaksud mengacuhkanmu, tapi saat ini aku tak mungkin berbagi cerita tentangmu padanya. Seharusnya kaupun mengerti jika putri salju saat ini sedang berusaha mewujudkan setiap mimpinya yang selama ini selalu ia ceritakan. Doamu pasti akan membuatnya semakin tegar dan kuat. Jadi, kau pasti sudah mengerti bukan? Kenapa kemarin lalu aku mengajakmu untuk sama-sama berdoa untuknya.

Kau tak perlu merasa asing denganku, karena aku tetap aku yang dulu seperti saat kau bertepuk tangan melihatku membacakan puisi di depanmu. Saat purnama kau begitu indah, aku yakin putri saljupun tak akan melewatkan kesempatan yang jarang ini. Dibalik jendela kamarnya pasti ia juga menatapmu penuh rindu. Jika kau ada kesempatan cobalah ceritakan padanya kenapa sampai saat ini salju belum juga turun di kotanya. Kau pasti sudah tahu alasannya. Tidak usah ragu lagi, demi menjaga senyum sang putri salju ceritakanlah padanya semua yang kau tahu. Setelah itu aku berjanji aku akan menulis puisi lagi untukmu.

Putri salju, ini hanya sedikit cerita yang sebenarnya tak ingin ku ceritakan padamu. Tentang rembulan yang dulu pernah kita bincangkan bersama, dibawah langit yang sama namun jarak menjadi dinding abstrak yang tak bisa kita lihat. Seperti dirimu yang hanya bisa terlihat dalam bingkai niskala, gambarmu ada di sana dalam sebuah cermin yang begitu bersih dan bening. Di sana, ada sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya, keceriaanmu yang menjelma pelangi, senyummu yang membuat awan semakin teduh, dan syahdunya pohon akasia menanti salju yang tak kunjung turun. Semua lukisan itu tiba-tiba bergerak dan hidup, mengalir dalam rasa yang kupendam sendiri, terus bergerak dan semakin lincah menari-nari di sekelilingku. Aku sadar semua ini harus segera ku hentikan, karena hidup dalam imajinasi itu sungguh menyakitkan.

Tapi sungai nil nyata, ia ada setiap kali aku menceritakan tentang rindu yang tak bisa lagi ku bawa melangkah. Dan yang paling kusuka dari sungai nil adalah ketika riaknya yang membentuk gelombang kecil menari-nari tersentuh angin. Dalam tatapan mataku sungai nil seolah berkata"sepi itu tidak akan merantaimu selamanya, rindu akan berakhir dan cinta pasti akan bertemu dengan sosok yang dicintainya". Iya, aku percaya itu. Percaya pada takdir yang saat ini sedang ku jalani. Percaya pada setiap ketentuan yang sudah ditetapkan oleh tuhanku. Dan aku percaya Allah akan memberikan jalan untuk hamba-Nya ketia ia sudah tidak menemukan lagi jalan keluar. Mungkin tanggung jawabku saat ini adalah bagaimana caranya aku bisa mewujudkan semua mimpi yang sudah kutulis ini bisa indah pada akhirnya.

Atau mungkin lebih baik aku mengalah, dan kembali melangkah diatas jalan yang diterangi  oleh mentari di siang hari, dan ketika gelap rembulan bersedia menemaniku melewati malam yang panjang. Ah.. aku benci jika harus menarik kembali setiap kata yang sudah ku ucapkan. Karena sampai saat inipun aku masih mendengarkan setiap cerita putri salju yang diceritakan oleh rinduku sendiri. Namun sampai saat ini aku hanya berani menyebutnya dalam doa, berharap ia akan ada di masa depanku.  Mungkin saat itu cinta sudah tidak menjadi rahasia, dan rindu yang selama ini kusembunyikan ia akan berjalan sendiri menghampiri sang putri salju dan menceritakan setiap detiknya yang telah kulalui seorang diri di sini.

Zagazig, 23/01/2014

Rabu, 22 Januari 2014

Putri Salju #15


Masih ada doa yang mengalun dalam hati keluar melalui mulut yang tak pernah bosan menyebut namanya. Putri salju, jika cinta adalah rahasia maka doa adalah sebaik-baik tempat untuk menyembunyikannya. Meski rindu selalu merajuk memintaku untuk melukiskan setiap apa yang kurasa, padahal cerita tentangmu sudah kusimpan rapih di dalam hati yang tak terlihat oleh siapapun. Tapi rindu selalu bertanya tentangmu, dalam heningku dalam diamku pertanyaan itu selalu ia ulang-ulang. Kau tahu jawaban apa yang aku sampaikan padanya? Jawaban yang membuat rindu tak lagi menertawakanku, karena setiap pertanyaan itu ia lontarkan aku selalu menjawab jika tentangmu semua indah.

Tapi ternyata dugaanku salah, rindu tak mengenal lelah ia selalu datang di setiap malamku mengajaku untuk kembali bercerita, tentangmu dan semua yang aku sembunyikan selama ini. Tapi setelah kupikir-pikir ternyata bersahabat dengan rindu itu sangat menyenangkan, aku jadi semakin mengerti apa yang harus kulakukan ketika tiba-tiba rindu harus datang bertamu tanpa memilih waktu yang tepat.

Seperti biasanya, saat ini mungkin kau sedang duduk diperpustakaan, berjibaku melawan diktat-diktat kuliahmu dengan bahasanya yang tak bisa ku pahami. Sepertinya perpustakaan sudah menjadi tempat favoritmu, kau bisa menghabiskan waktu berjam-jam di sana, bahkan hingga larut malam ketika semua pengunjungnya mulai merasa jenuh. Teruslah berjuang sampai semua mimpimu bisa kau wujudkan. Entah kenapa akhir-akhir ini aku ingin selalu mengirimkan kata-kata motivasi untukmu, padahal kau juga seirng menulis di langit mayamu kata-kata yang penuh motivasi yang membuat jalan menuju mimpimu semakin terarah.

"Don't let your dreams be dream!! Do your best. Allah will do the rest. Just do your best. It will be enough". Kalimat ini yang masih kuingat sampai sekarang, kata-kata itu yang kadang membuat aku bersemangat untuk selalu berjalan menuju mimpiku. Dan aku rasa, aku tidak berlebihan jika menggambarkanmu dengan sosok yang penuh kemauan keras, dan tak pernah lupa pada setiap mimpi yang sudah kau tulis di buku harianmu.

Jika kau merasa jenuh, danau yang pernah kau potret tempo hari pasti bisa mencairkan semua sepimu. Pohon dan ikan-ikan kecil di sana mungkin akan mengajakmu berbicara agar kau bisa bangkit kembali menapaki setiap jalan yang sudah kau susuri sampai sejauh ini. Teruslah melangkah, aku yakin kau pasti bisa menepis setiap rasa takutmu, dan mengusir setiap getir yang hampir membuat malammu terasa begitu singkat. Namun jika kau benar-benar merasa lelah tataplah wajah ibumu dengarkan kembali suaranya yang membawa nasihat indah seperti sungai yang mengalir meneteskan kesejukan dalam hatimu. Karena ia sosok yang sangat kau hormati dan begitu kau cintai, dengannya kau bisa meluapkan setiap beban yang mengganjal di sanubarimu. Begitulah ibu, sebelum bercerita mungkin ia juga sudah bisa menebak apa yang sedang kau pikirkan.

Tentangmu aku hanya bisa bercerita pada angin malam yang selalu menemaniku dikala malam tak mampu membuatku terlelap. Juga pada umi yang akhir-akhir ini kembali menanyakan kabarmu. Ah.. kadang aku malu ketika harus menjawab setiap pertanyaan umi karena aku sendiripun belum pernah melihat bagaimana sosok putri salju itu. Tapi doa itu tetap ada, dan sepertinya aku tak mampu menghentikannya karena hanya dalam doa aku bisa merasakan jika kau begitu dekat, dan rindu bisa sedikit mengalah ketika ia tahu bahwa kau ada dalam setiap doaku.

Zagazig, 21/01/2014

Sabtu, 11 Januari 2014

Putri Salju #14


Putri salju, malam telah bertemu pagi. Ada banyak hal yang tak aku mengerti kenapa malam tadi tidur ku tak nyenyak. Padahal hawa dingin sudah mencibirku semenjak sore kemarin, memaksaku untuk segera merapat pada selimut yang tak dapat kunikmati lagi lembutnya. Mata terpejam namun hati tetap terjaga mencarimu dalam heningku dengan setiap tanya yang tak mampu ku jawab. Semoga kau baik-baik saja di sana, kalimat itu yang selalu ku ucap dalam hatiku sendiri, meyakinkan ku bahwa kau di sana memang baik-baik saja. Saat ini kau mungkin sedang duduk di perpustakaan berkutat dengan diktatmu menghafal setiap materi yang akan kau tuliskan diujianmu awal smester nanti.

Pagi ini sebenarnya aku ingin berbagi cerita dengan sungai nil, tapi hawa dingin terasa begitu lekat, kabut putihpun masih tebal menutupi setiap ruang tempat aku berdiri. Aku lebih memilih untuk tetap di kamarku sampai mentari menyuguhkan senyumnya. Dulu aku sempat saling betukar kabar dengan kabut putih hanya untuk mengetahui bagaimana keadaanmu di sana. Tapi saat ini sepertinya kabut putih enggan untuk bercerita. Ah.. andai kabut putih bisa ku ajak bicara mungkin rindu yang ku pendam tidak akan seberat ini. Aku hanya berusaha untuk memahami, jika tugas kabut putih memang tidak sesederhana yang aku pikirkan ia harus terbang mengitari langit kotaku dan tentu juga lagnit kotamu, putri salju.

Aku bahagia meski harus bersahabat dengan rindu, karena rindu itu sendiri yang membuat aku kuat untuk tetap menjalani hariku. Meski pernah aku ingin menyerah pada waktu dan keadaan,hempaskan semua mimpi tentangmu dan berjalan sendiri meninggalkan semua cerita yang selama ini aku rangkai dan aku jaga. Karena percuma, betapapun kuatnya aku menahan rindu ia tetap mengikuti kemanapun aku pergi, dan yang selalu ia bisikan ditelingaku adalah tentang dirimu. Perselisahan dan pertengkaranku dengan rindu yang membuat kami semakin akrab, lalu disimpang jalan kami bertemu dan memutuskan mengakhiri konflik yang sudah lama kami bangun.

Bagaimana denganmu putri salju? Kau juga pasti sudah mengenal rindu bukan? Ketika harimu penuh Resah,berjuntai gundah, dan langitmu gelisah. Kau tidak perlu khwatir karena seperti itulah awal rindu memperkenalkan dirinya. Selanjutnya aku tak mampu bercerita karena setiap orang pasti memiliki jalannya sendiri, dan memiliki cerita masing-masing bagaimana persengketaan mereka dengan rindu malah membuahkan sesuatu yang indah. Puisi misalanya, kadang aku bisa menulis puisi tentangmu setelah aku bertengkar hebat dengan rindu. Dan jika aku tak mampu melawannya, aku kembalikan semuanya pada sang pencipta rindu. Bukankah dulu kau juga sering menulis, "karena hanya dengan-Nya hati tenang, damai jiwa dan raga"

Kemarin lalu aku sempat membaca berita, jika salju di New York tebalnya sampai 60 cm. badai salju pun membuat warga di sana tidak diperbolehkan keluar rumah karena jalanan di sana sudah tidak bisa terlihat lagi. Kau tahu, para peramal di sana mengatakan jika badai salju terparah dalam satu generasi di AS ini akan terus berlangsung sampai beberapa hari kedepan. Saat ini New York benar-benar membeku karena suhu di sana sudah jatuh dibawah titik beku, antara minus 23 derajat celcius sampai minus 56 derajat celcius. Semoga salju di kotamu tidak tidak seekstrim di New York, karena menurutku keindahan saljunya akan hilang jika ia turun begitu deras lalu menciptakan badai. Teruslah tersenyum, sambil melihat kearah jendela kamarmu, apakah salju pagi ini di kotamu sudah turun? Ataukah ia masih enggan dan malu untuk menyapa sang putri yang sudah lama merindunya.

Zagazig, 11/01/2014

Putri Salju #13


Saat ini, apa kabarmu di sana? Rasanya pertanyaan ini ingin selalu kutanyakan.  Entahlah,  kadang ketika langit mayamu mendung ada rasa kehilangan yang mengalir pelan di hati. Ya, aneh! Padahal melihatmu saja aku belum pernah. Tapi rindu itu bisa aku rasakan dan menajdi lukisan yang tak ingin kuselesaikan. Lalu di malam harinya ia menjadi cerita yang ingin selalu kutulis. Tentang rindu, sepertinya aku sudah semakin mengenalnya. Ketika ia akan datang bertamu kedalam hariku, aku tak perlu bertanya apa keperluannya. Dan puisi adalah buah rindu yang tertinggal disetiap sudut kamarku.

Putri salju, pagi tadi aku sempat berjalan-jalan menyusuri tepian sungai nil, hari libur seperti ini rasanya memang menyenangkan keluar rumah di pagi hari sambil menikmati udaranya  yang masih murni. Kau tahu, keindahan sungai nil sedikit berkurang di musim dingin. Airnya yang ketika musim panas begitu deras dan bergelombang, tapi di musim dingin sungai nil surut, laju airnya pun tak begitu indah dipandang mata. Entah kenapa, akupun tak mengerti. Apa musim dingin adalah musim rindu bagi sungai nil? Seperti rindu yang saat ini menggantung diatas langit kotamu, penuh harap dan cemas menanti salju yang tak kunjung turun.

Tapi malam ini adalah waktu yang tepat untuk membicarakan rindu, meski setiap hari ia selalu datang dengan berbagai wujud, kadang ia berupa pelangi, kadang juga berupa awan hitam yang tak bisa ku tepis. Dua hari ini memang langit di kotaku buram, hawa dingin membawa semuanya semakin terasa menyayat. Dan gerimis adalah kunci yang membangkitkan semua mimpi tentangmu  kembali hidup didalam sepiku. Seharusnya tidak ada yang perlu aku cemaskan tentang semua ini. Karena rasa rindu adalah hal yang wajar, wajar untuk setiap orang yang sedang jatuh cinta. Iya, tentang semua ini kita tidak perlu khawatir, bukankah semua sudah berjalan dalam kehendak-Nya?

Akhirnya aku berani mengakui jika saat ini aku sedang jatuh cinta, suatu hal yang sangat di ragukan oleh umi. Bahkah umi tidak percaya ketika aku menyampaikan padanya bahwa aku mencintai seorang muslimah, dan umi benar-benar tidak percaya jika aku bisa jatuh cinta. Kadang aku tertawa bercampur malu ketika umi mengataiku dengan nada mengejek bahwa anak umi yang dari dulu tidak pernah dekat dengan seorang perempuan bisa juga mengungkapkan perasaannya. Umi, kalau umi tahu bahwa aku memang belum pernah mengatakan apa yang aku rasakan, mungkin aku akan lebih menjadi bulan-bulanan umi dan adik-adik di rumah. Apa yang aku rasakan aku hanya mampu menuliskannya, biarkan saat ini semuanya berjalan seperti ini, karena pasti ada masanya nanti aku akan mengatakan padanya bahwa aku mencintainya. Dari hati melalui mulut yang tak pernah bertutur cinta, semoga saat itu bidadari yang kupanggil putri salju sudah halal untukku. Ya Rabb, aku ikhlas dengan takdirku. Karena akhir dari cerita ini, hanya Engkau yang tahu.

Kemarin memang aku tak mengerti tentang cinta, meski saat ini pun aku masih mencoba untuk mengartikannya. Tapi setelah mengenal putri salju, ternyata cinta bisa datang dari jalan yang tak pernah aku duga, hadirnya tak pernah direncanakan, ia tumbuh begitu saja tanpa pernah aku tanam, tanpa pernah aku siram. Lalu dari mana sebenarnya cinta itu datang? Jika cinta adalah karunia yang begitu indah dari Allah, lalu bagaimana cara aku mensyukurinya? Jika jatuh cinta adalah sesuatu yang dilarang oleh agama mengapa Allah berfirman di dalam kitab-Nya "dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa wanita-wanita, (QS. Ali Imran: 14). Ah.. rasanya begitu malu jika harus berbicara tentang cinta.

Zagazig, 10/01/2014

Jumat, 10 Januari 2014

Putri Salju #12


Putri salju, kali ini aku dibuat takjub kembali oleh umat Islam di sini. Selain semangat untuk berislam yang sangat tinggi mereka juga sangat menghortmati saudaranya yang non muslim. Kemarin ketika orang-orang Kristen koptik merayakan hari natal mereka, tidak ada satupun dari kalangan umat Islam di Kairo yang melakukan demonstrai menentang kudeta. Mereka benar-benar  menyadari jika hari itu saudara mereka sedang meryakan hari raya mereka. Padahal hari sebelumnya demonstrasi di kampus Al-Azhar telah menelan korban sebanyak 13 orang meninggal karena kebengisan militer Mesir.

Kehidupan beragama di Mesir memang sangat indah, penuh dengan toleransi, saling menghormati dan menghargai. Tapi ketika terjadi kesalahan ada tindakan tegas yang langsung keluar dari umat Islam yang diwakili oleh Al-Azhar, dan mufti negara. Tapi setelah terjadi kudeta berdarah semuanya berubah, Mesir kehilangan masa depannya, butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa kembali bangkit. Semoga kau tidak pernah bosan untuk mengirim doa bagi rakyat Mesir yang sedang ditimpa ujian dan cobaan.

Inilah Mesir, negeri yang dulu sangat ingin kau datangi untuk bisa menimba ilmu didalamnya. Namun untuk saat ini mungkin kau belum berjodoh dengan Mesir, kau belum bisa melihat bagaimana indahnya sungai nil, kau juga belum bisa melihat bagaimana megahnya piramyda. Tapi suatu saat nanti kau juga pasti bisa berdiri ditepi laut merah, berlayar mengarungi panjangnya sungai nil dan meminum airnya. Aku selalu mendoakan itu untukmu, dan maaf jika aku lancang, berani bermimpi jika saat itu yang ada disampingmu adalah aku. Ah.. rasanya mimpi itu terlalu indah untukku. Mengharapkannya saja kadang aku takut, aku hanya bisa menyimpan harap dan mimpi itu dalam diam dan dalam rahasia yang tersimpan dilembaran-lembaran doa. Semoga Allah memberikan yang terbaik untukku dan untukmu.

Tapi tetap, menurutku kotamu lebih indah dari pada Mesir. Gedung-gedung di sini tak semegah gedung-gedung yang ada di kotamu, jalan-jalan di sini tak sebersih jalan-jalan yang terbentang indah di kotamu. Rumput di sini juga tak sehijau rumput di kotamu. Mungkin kau juga sudah tahu jika kotaku penuh debu, sering sekali hujan debu di sini membuat pohon dan bunga-bunga menjadi kusam tak menawan. Sangat berbeda bukan? Tidak seperti pohon dan taman-taman di kotamu yang begitu cantik dan memikat hati. Aku bisa mengambil kesimpulan seperti ini dari setiap foto yang waktu itu pernah kau kirim. Apalagi ketika salju sudah turun, keindahan kotamu akan semakin terlihat sempurna.

Dan menurutku, Giessen semakin indah ketika dibawah langitnya ada sosok seperti mu. Jilbabmu yang menunjukan siapa dirimu sebenarnya, meski orang-orang di sana pertama kali melihatmu mungkin akan sedikit heran. Tapi rasa heran itu seketika akan sirna ketika mereka tahu tentangmu. Kau yang ketika berbicara dengan mereka nada bicaramu sopan dan baik, bila mereka berbicara kau mendengarkan nya dengan seksama, bila berjumpa dengan mereka kau menyambutnya dengan wajah ceria, dan ketika kau berjanji kepada mereka kau menepatinya. Bukankah memang seperti itu karakter seorang muslim? Jilbabmu, semoga tetap menjadi penasehat diri ketika kau melangkah.

Putri salju,tentangmu mungkin akan banyak cerita yang terurai. Meski kita tak pernah saling melihat, dunia kita masih sebatas dalam pikiran kita masing-masing. Aku hanya bisa melihat senyummu diatas langit mayamu. Jika kau ada waktu luang cobalah renungkan, kenapa dalam perjalanan yang sangat jauh ini kita harus saling mengenal dalam dunia yang tak bisa kita sentuh.


Zagazig, 09/01/2014

Rabu, 08 Januari 2014

Putri Salju #11


Kadang aku ingin bertanya, pada putri salju yang jauh dari pandang mata. Manenurut mu kata-kata apa yang pas untuk mendefinisikan kenangan? Jika kenangan adalah rekaman peristiwa yang tersimpan secara otomatis dalam otak kita, lalu bagai mana dengan kenangan yang tak indah yang tak ingin kita ingat? Bagaimana kita menghapusnya? Mungkin akan timbul pertanyaan lain lagi, bisakah kenangan itu terhapus dalam ingatan kita? Saat ini dan untuk selanjutnya mungkin kita akan berharap kepada waktu untuk memberikan jawabannya. Tapi menurutku, waktu bisa saja berlalu dengan cepat tapi tidak dengan kenangan.

Kau tidak perlu khawatir, karena dari dulu aku selalu mengatakan jika tentangmu semua indah. Iya, semua tentangmu berjalan pada jalan yang sudah semestinya. Jika ada rindu di antara kita, biarkan ia terus hidup untuk menjadi penasehat diri ketika kita salah mengambil langkah. Dan cinta, suatu saat nanti juga akan terucap. Tidak untuk saat ini, biarkan ia tetap melayang indah menari-nari di antara mimpi, harap dan rasa takut akan berpalingnya cinta dari yang berhak memilikinya. Jika kau ingin mengucapkannya, cukup katakan di setiap doamu. Karena akupun begitu, aku mengukir cinta dalam setiap doaku diwaktu senja, aku merinduimu dalam setiap lirih doa diwaktu malamku. Karena ini semua tentang kita, yang tak bisa lepas dalam pusaran takdirnya. 

Sebenarnya aku malu mengatakannya, jika jatuh cinta adalah nikmat yang kadang kita lupa untuk mensyukurinya. Mungkin karena ketika jatuh cinta manusia disibukan oleh rindunya, disibukan oleh sosok yang didambanya. Dan lupa bahwa cinta yang tumbuh dalam hati juga datang dari sisi-Nya. Ketika rindu menyentuh jiwa kita, ketika cinta tiba-tiba menjadi penghuni hati yang nelangsa, kebaradaannya kadang membuat merana namun sering juga membuat kita tertawa bahagia. Bukankah semua itu hadir tanpa kita rencanakan? Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Putri salju, ayat diatas pasti kau sudah sangat hafal bukan? Iya, itu adalah surat Ar-Rahman. Surat yang menceritakan bagaimana Allah begitu maha kuasa melimpahkan rahmat-Nya kepada semua hamba-Nya. Sesuai dengan nama suratnya 'Ar-Rahman' yang mengandung makna pengasih kepada seluruh makhluk-Nya didunia tanpa terkecuali, baik makhluk yang taat ataupun yang mengingkari-Nya. Kau sangat menyukai surat ini bukan? Aku juga suka, dan sering mendengarkannya setiap kali aku singgah di halaman blogmu. Semoga sekarang kau pun sudah hafal dengan setiap ayat-ayatnya. Maha Suci Dia Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.

Malam ini aku masih mengeja setiap yang kau katakan, kadang tersesat sendiri ketika tiba-tiba kau harus menghilang. Karena setiap makna yang kucari ada di didirimu, aku tak mungkin menanyakannya pada bulan sabit, yang sudah melewati malam ketiga tapi ia tetap setia menemaniku pulang. Bisa saja ia menceritakan semua tentangmu, karena setiap malam ia selalu melihatmu dari jauh. Biarkan aku menceritakan semuanya pada bulan, karena ia memang sangat pintar menjaga rahasia. Aku mulai mengerti ketika kau mengatakan beberapa peristiwa memang harus ditinggalkan, karena kehidupan harus terus bergerak dan berjalan. Dan waktu yang telah berlalu tidak mungkin bisa mengulang kembali setiap detiknya. Tapi kenangan, ia bisa memutar kembali semuanya, bahkan sangat nyata dan nampak didepan mata. Semoga kau selalu baik-baik saja di sana, karena tentangmu semua indah, rasanya begitu sulit jika aku harus menghentikan setiap gerak kenangan yang sudah menyatu bersama rindu.

Zagazig, 07/08/2014